11 Istilah Dunia Kerja yang Bikin Motivasi Kerja Lenyap, Kamu Wajib Tahu

  • Bagikan
Artikel berikut ini akan mengulas secara ringkas dan jelas mengenai 11 Istilah Dunia Kerja yang Bikin Motivasi Kerja Lenyap, Kamu Wajib Tahu, yang kami rangkum dari berbagai sumber tepercaya guna memberikan informasi yang akurat, relevan, dan mudah dipahami oleh pembaca.

Ada banyak istilah dunia kerja yang sebetulnya sering kamu dengar, tapi punya arti kultural yang… ya gitu deh. Kadang bikin motivasi kerja lenyap seketika. Kerja kalau tanpa mengeluh overwork, overwhelm, dan underpaid memang nggak mungkin. Konon, anak zaman sekarang lebih banyak ngebacotin pekerjaan mereka ketimbang mengerjakannya dengan namaste. Hooh, dunia kerja kejam ya, Bestie. Nggak apa-apa deh, namanya juga ikut arus ngeluh-ngeluh. Sak bahagiamu wae lah. Yang penting jangan lupa ngeluhnya sambil dengerin lagu Kunto Aji yang “Rehat” biar merasa semua ini bukan salahmu.

Demi turut menurunkan motivasi kerja bocah-bocah sekarang, saya punya bahan nih. Kita bisa bersama-sama mengeluhkan istilah dunia kerja yang punya arti kultural menyebalkan. Lebih menyebalkan daripada arti harfiahnya. Mari diresapi bersama-sama demi bertahan cari cuan.

#1 Noted
Istilah dunia kerja satu ini sering diucapkan sama mereka yang sudah telanjur lelah. Biasanya rekan kerja chat di grup WhatsApp dan mention kawannya demi mengingatkan bahwa pekerjaannya itu ditunggu dari kemarin, tapi kok belum kelar. Biar gampang saya kasih contoh situasinya nih.

Seno: “Kak @Aditya, nanti kalau laporan demografi pembaca sudah jadi, tolong dijadikan PDF dan dikirim via surel ke aku, ya.”
Adit: “Noted.”

Dengan kata lain, “noted” artinya ‘iya aku tau udah lah jangan berisik, anjenggg!’ Kalau rekan kerjamu ada yang begini, tolong berikan dia motivasi kerja biar nggak emosi terus. Istilah ini seolah menjadi simbol pasrah tapi juga sinyal emosi tersembunyi yang bikin kamu ngerasa diabaikan.

#2 Tenggo
Secara harfiah istilah “tenggo” di dunia kerja itu artinya ‘teng langsung go’. Ketika jam kerja telah berakhir, seorang rekan kerjamu mungkin langsung beres-beres dan pamit pulang. Kebiasaan itu dinamakan tenggo. Sebetulnya nggak ada yang salah dong, jam kerja sudah berakhir ya langsung pulang. Sama saja kayak bel pulang sekolah yang membuatmu otomatis bubar dari kelas.

Sayangnya, istilah “tenggo” di dunia kerja punya makna yang negatif, biasanya jadi alat buat ngejekin mereka yang kebur-buru pulang, nggak tenggang rasa sama kawan lain yang kerjaannya belum kelar. Dih, padahal mah bebas.

“Ya ampun, Dafi tenggo nih. Baru juga jam 16.01 udah matiin latop aja.”

Tenggo jadi istilah yang bikin kamu selalu was-was: apakah aku harus ngerjain lembur supaya nggak dianggap ogah-ogahan atau tetap pulang tepat waktu biar kesehatan tetap terjaga.

#3 FYI aja sih
Kata “FYI” memang sudah sering dipakai di percakapan sehari-hari, kepanjangannya adalah for your information. Tapi, kalau kata ini dipakai sebagai sebuah istilah di dunia kerja, arti kulturalnya bisa lebih ngehe.

“FYI aja sih, aku sudah melakukan riset tren sejak November dan hasilnya nihil.”

Ini mah namanya bukan lagi menginformasikan ke rekan kerja lainnya, melainkan memberikan penekanan. Kurang lebih kalau diartikan secara telanjang, kalimatnya jadi begini, “Camkan ini ya, Wahai rekan. Aku sudah melakukan riset tren sejak November dan hasilnya nihil. Terus, aku masih disalahkan atas apa yang terjadi gitu? Padahal aku sudah kerja maksimal woy, mengertilah, aku menderita woy!”

Nggak semua istilah FYI diartikan persis begitu di dunia kerja, intinya kurang lebih mengandung emosi dan kegeraman yang sama. Kata ini bisa jadi senjata halus untuk menegaskan usaha atau sekaligus sindiran terselubung yang bikin suasana kerja jadi sedikit berat.

#4 SOP
Istilah dunia kerja seperti SOP memang sekilas tidak ada yang salah. Kepanjangan SOP adalah standard operational procedure. SOP bisa jadi sebuah poin penting dan petunjuk kerja bagi setiap karyawan. Jika salah satu rekanmu menyebut istilah ini, coba cek lagi bagaimana penggunaan kalimatnya.

“Kalau kerja yang sesuai SOP ya.”

Nah, kalimat di atas kalau diartikan secara kultural berarti kerjaanmu nggak benar, ada yang salah, ada banyak yang keliru bahkan kamu bisa jadi mengacaukan sistem kerja karyawan lain. Nggak perlu membuka detail SOP-mu lagi, sudah cukup tahu bahwa SOP yang kawanmu maksud adalah alasan tambahan untuk mengatai kerjamu yang nggak bener. Makanya, muhassabah diri Anda, Hyunk!

SOP juga sering jadi alasan bos atau senior buat menegur tanpa harus menyinggung secara langsung. Tapi percayalah, tiap kali kata ini muncul, hati kecilmu pasti sedikit teriris.

#5 Hold dulu ya
Bukan bermaksud mematahkan semangatmu untuk berinovasi dalam pekerjaan, tapi istilah “hold dulu ya” terkadang punya makna yang sedikit menyakitkan dan berpotensi menurunkan motivasi kerja. “Hold dulu” bisa berarti juga “usulanmu nggak penting woy!” atau penolakan secara halus.

Officer A: “Menurut aku campaign ini bakal lebih ramai kalau memanfaatkan gimik selebgram sih. Misalnya tiba-tiba Awkarin dikasih ucapan selamat karena habis beli hotel gitu. Nanti aku buatkan brief-nya deh.”
Supervisor B: “Menarik sih, tapi usulan gimik selebgram ini kita hold dulu deh ya,”

Kalimat ini bikin kamu pengin ngeluh tapi nggak bisa secara langsung. Rasanya seperti semacam penolakan yang sopan tapi bikin motivasi kerja menurun secara dramatis.

#6 ASAP
ASAP adalah singkatan dari “as soon as possible”. Tapi, istilah dunia kerja yang satu ini sering dipakai buat mengoprak-oprak karyawan yang kerjanya lemot. Hati-hati kalau si bos udah bilang, “Revisinya nanti dikirim ke saya, ASAP.”

Bisa jadi kamu lagi disindir sebab dari kemarin nggak kunjung kirim atau si Bos jaga-jaga karena biasanya kamu lemot. Makanya, Nder, kerja yang sat set deh biar nggak menyusahkan orang lain. ASAP bisa bikin tekanan mental bertambah karena terdengar seperti ultimatum halus tapi menekan.

#7 WhatsApp on
Pantas motivasi kerja menurun jika atasanmu kasih mandat, “WhatsApp on ya!” sebelum kamu cuti. Secara harfiah memang kamu hanya disuruh standby, tapi jangan harap deh. Secara kultural, instruksi menyalakan WhatsApp saat cuti dalam istilah dunia kerja itu berarti kamu nggak akan tenang.

Yang kamu dengar: “Selamat berlibur, buat jaga-jaga WhatsApp on, ya!”
Yang sesungguhnya si Bos sampaikan: “Selamat berlibur. Enak aja kamu pergi begitu saja saat kami sedang hectic. Kamu harus tetap bertanggung jawab atas kerjaan yang kamu tinggalkan.” Dilanjutkan dengan tertawa ala sinetron.

Instruksi ini bikin semua rencana santai jadi sedikit terganggu. Kamu nggak bisa full rehat karena selalu ada rasa bersalah menempel di kepala.

#8 Deadline
Ah, istilah klasik tapi selalu bikin panik: deadline. Secara harfiah, deadline berarti batas waktu penyelesaian pekerjaan. Tapi di dunia kerja kultural, istilah ini sering berubah menjadi sumber stres dan tekanan terselubung.

“Deadline-nya besok jam 10 pagi ya.”
Bukan cuma sekadar perintah, tapi juga pesan tersirat: “Kalau nggak selesai tepat waktu, siap-siap dimarahin, dikritik, atau dicap nggak kompeten.”

Deadlines bisa bikin orang jadi multitasking secara paksa, kerja lembur, dan kehilangan mood. Kalau nggak hati-hati, istilah ini bikin semangat kerja berkurang drastis.

#9 Brainstorm
Brainstorming terdengar menyenangkan, ide kreatif, nongkrong sambil mikir. Tapi jangan salah, istilah ini juga bisa bikin frustrasi. Kadang, brainstorming berubah menjadi ajang pamer ide tanpa tindakan nyata.

“Yuk kita brainstorming untuk ide campaign bulan depan.”
Yang dimaksud kadang: “Silakan bicara sebanyak-banyaknya, tapi nggak ada yang bakal ditindaklanjuti secara serius. Jadi, jangan terlalu berharap, Bestie.”

Brainstorming bisa jadi sarana melepaskan energi dan frustrasi, tapi bagi sebagian orang justru bikin capek karena terlalu banyak ide tapi minim eksekusi.

#10 Feedback
Feedback terdengar positif, tapi di dunia kerja kultural sering berubah jadi kritik halus atau sindiran terselubung.

“Menurut aku sih, ide kamu bagus, tapi mungkin bisa diperbaiki di beberapa titik.”
Kalau diterjemahkan kultural: “Kamu udah salah di beberapa hal, aku kasih peluang buat memperbaiki biar nggak bikin masalah lebih besar.”

Feedback bisa membangun, tapi seringkali bikin motivasi menurun kalau dikemas terlalu halus tapi sarat kritik.

#11 Meeting
Meeting seharusnya diskusi produktif, tapi istilah ini sering jadi simbol buang waktu.

“Besok ada meeting jam 9 pagi.”
Kulturalnya: “Siap-siap lembur tanpa hasil jelas, ngobrol panjang tapi bikin capek, dan mungkin nggak ada keputusan penting yang diambil.”

Meeting panjang bisa bikin orang kehilangan fokus, menurunkan produktivitas, dan bikin semua peserta ingin cepet pulang.


Dunia kerja memang penuh istilah yang kalau dipahami secara kultural bisa bikin kepala pusing. Mulai dari noted, tenggo, FYI, SOP, hold dulu, ASAP, WhatsApp on, deadline, brainstorming, feedback, sampai meeting. Semua istilah ini terdengar biasa, tapi efeknya pada motivasi kerja kadang besar.

Yang penting, meski istilah-istilah itu bikin lelah dan emosi, tetap sabar, gunakan humor sebagai pelampiasan, dan jangan lupa ambil rehat sesekali. Namaste, Bestie, dan tetap semangat demi cuan!

Seluruh konten dan artikel yang dipublikasikan di DomainJava.com disediakan semata-mata untuk tujuan informasi dan edukasi. Kami berupaya menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat, namun tidak dimaksudkan untuk melanggar hukum, kebijakan, maupun pedoman dari pihak mana pun. Segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat dalam artikel 11 Istilah Dunia Kerja yang Bikin Motivasi Kerja Lenyap, Kamu Wajib Tahu sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
  • Bagikan