Kamu pernah mendengar istilah avoidant tapi bingung artinya apa? Jangan khawatir, kamu nggak sendirian! Kata ini mungkin terdengar asing buat sebagian orang, tapi sering banget muncul dalam pembicaraan soal kepribadian atau psikologi. Avoidant dalam konteks psikologi biasanya mengacu pada seseorang yang cenderung menghindari situasi atau hubungan yang bisa membuatnya merasa cemas atau tertekan.
Nah, di artikel ini kita bakal bahas arti avoidant, apa yang membedakan orang dengan sifat ini, dan gimana pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, simak terus ya! Kita bakal bahas dengan bahasa yang santai dan mudah dipahami.
Apa Itu Avoidant?
Sebelum lebih jauh, mari kita bahas dulu avoidant artinya secara umum. Kata avoidant berasal dari kata avoid, yang artinya menghindar. Dalam psikologi, avoidant merujuk pada pola perilaku seseorang yang menghindari situasi atau hubungan yang dapat menimbulkan rasa cemas atau ketidaknyamanan emosional.
Biasanya, avoidant digunakan untuk menggambarkan seseorang dengan attachment style (gaya keterikatan) yang disebut avoidant attachment. Ini adalah salah satu tipe gaya keterikatan yang dikenal dalam teori psikologi. Orang dengan gaya keterikatan ini cenderung merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional dan cenderung menjaga jarak dalam hubungan pribadi.
Ciri-Ciri Orang yang Avoidant
Orang dengan kecenderungan avoidant memiliki beberapa ciri khas yang bisa dikenali, terutama dalam hubungan sosial dan emosional. Beberapa ciri tersebut antara lain:
Menghindari kedekatan emosional
Mereka cenderung menjaga jarak emosional dalam hubungan pribadi dan menghindari terlalu terikat dengan orang lain. Misalnya, mereka mungkin merasa cemas atau tidak nyaman jika hubungan menjadi terlalu dekat.
Takut tergantung pada orang lain
Orang dengan pola ini sering kali takut bergantung pada orang lain, dan juga tidak suka jika orang lain terlalu bergantung pada mereka. Mereka lebih memilih kemandirian dalam hampir segala hal.
Cemas dengan komitmen
Ketika berhubungan romantis, orang yang avoidant biasanya merasa cemas dengan komitmen dan mencoba untuk menghindari hubungan yang terlalu serius.
Sulit berbagi perasaan
Mereka jarang berbagi perasaan atau emosi dengan orang lain, bahkan dengan orang yang mereka percayai. Mengungkapkan perasaan bisa terasa menakutkan bagi mereka.
Cenderung menutup diri
Sering kali, orang yang avoidant akan memilih untuk menutup diri daripada menghadapi masalah atau ketidaknyamanan emosional dalam hubungan.
Avoidant dalam Konteks Psikologi
Di dalam dunia psikologi, avoidant adalah salah satu tipe attachment style yang diperkenalkan oleh psikolog John Bowlby dan Mary Ainsworth. Dalam teori attachment, terdapat tiga gaya keterikatan utama:
Secure attachment – Orang dengan gaya ini merasa nyaman dekat dengan orang lain dan mampu menjaga hubungan yang sehat.
Avoidant attachment – Orang dengan gaya ini cenderung menghindari kedekatan emosional dan lebih memilih untuk menjaga jarak dalam hubungan.
Anxious attachment – Orang dengan gaya ini cenderung merasa cemas tentang hubungan dan berusaha keras untuk mendapatkan perhatian atau kasih sayang.
Gaya keterikatan avoidant ini sering berkembang sejak masa kecil, biasanya sebagai respons terhadap pola pengasuhan yang tidak konsisten atau terlalu dingin dari orang tua.
Dampak Avoidant dalam Hubungan
Gaya keterikatan avoidant bisa berdampak signifikan dalam hubungan interpersonal. Orang yang avoidant mungkin terlihat keras kepala atau tidak peduli, tetapi kenyataannya mereka sering kali mengalami ketakutan akan kedekatan emosional. Hal ini bisa menyebabkan:
Kesulitan dalam membangun hubungan yang mendalam
Orang dengan gaya avoidant cenderung merasa tidak nyaman ketika hubungan menjadi terlalu intim atau emosional. Mereka lebih memilih hubungan yang lebih dangkal dan jarang mengungkapkan perasaan.
Kesulitan dalam komunikasi
Mereka mungkin menghindari percakapan yang mendalam atau sulit, karena merasa tidak nyaman dengan konflik atau ketegangan emosional.
Rasa takut akan ketergantungan
Seringkali, orang yang avoidant merasa takut kehilangan kebebasan mereka atau tergantung pada orang lain, yang bisa menyebabkan mereka menahan diri dalam hubungan.
Menghadapi Sifat Avoidant dalam Diri Sendiri atau Orang Lain
Jika kamu merasa memiliki sifat avoidant atau sedang berhubungan dengan seseorang yang memiliki sifat ini, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk menghadapinya:
Pahami perasaan mereka
Mengerti bahwa ketakutan mereka terhadap kedekatan emosional sering kali berakar dari pengalaman masa lalu atau kecemasan yang mendalam, bisa membantu kita lebih empatik.
Jangan paksa mereka
Mengajak orang dengan gaya keterikatan avoidant untuk membuka diri bisa jadi sulit. Sebaiknya, beri mereka ruang dan waktu untuk merasa nyaman.
Bangun kepercayaan secara perlahan
Jika kamu dalam hubungan dengan seseorang yang avoidant, cobalah untuk membangun kepercayaan secara bertahap dan hindari memberi tekanan pada mereka untuk terbuka.
Terapi atau konseling
Jika sifat avoidant mengganggu kualitas hubungan atau kehidupan emosional seseorang, terapi atau konseling bisa sangat membantu. Terapis dapat membantu mereka mengatasi ketakutan akan kedekatan dan membangun keterampilan dalam hubungan yang lebih sehat.
Kesimpulan
Jadi, avoidant artinya adalah menghindari kedekatan emosional, baik dalam hubungan pribadi maupun sosial. Orang dengan pola avoidant attachment biasanya merasa cemas akan keterikatan emosional dan lebih suka menjaga jarak dalam hubungan. Meskipun gaya ini bisa sulit dihadapi, pemahaman dan pendekatan yang sabar bisa membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat.
Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal memiliki kecenderungan avoidant, penting untuk mengenali pola ini dan berusaha untuk menghadapinya dengan cara yang penuh pengertian. Dengan kesabaran dan komunikasi yang baik, perubahan positif bisa tercapai.












