

Gregor Mendel adalah seorang ilmuwan dan imam Agustinian yang dikenal sebagai “Bapak Genetika”. Melalui penelitiannya yang dilakukan pada pertengahan abad 19, Mendel membentuk dasar pemahaman kita tentang warisan genetik. Dia terkenal dengan eksperimen nya mengenai ercis atau biasa disebut tanaman kacang polong.
Mendel, dalam penelitiannya, memilih tanaman ercis dengan alasan-alasan spesifik. Kriteria tersebut diantaranya:
Mendel memilih tanaman ercis karena mudah untuk dibudidayakan. Tanaman ini dapat ditanam dalam jumlah yang besar di kebun klaster, tempat Mendel melakukan penelitian.
Ercis memiliki siklus hidup yang cepat, memungkinkan Mendel untuk melihat hasil dari percobaannya dalam waktu yang relatif singkat. Ini penting bagi Mendel, karena penelitian genetik memerlukan beberapa generasi sebelum pola-pola tertentu muncul.
Ercis memiliki bunga yang bisa dibuat menjadi bunga-bunga yang penyerbukannya dapat dikendalikan oleh mendel, baik penyerbukan sendiri maupun penyerbukan silang.
Mendel memilih ercis karena memiliki karakteristik yang jelas dan dapat dilihat perbedaannya secara langsung, seperti warna bunga, posisi bunga, warna dan bentuk biji dan lain-lain.
Namun, sebuah pertanyaan yang menarik untuk dibahas adalah alasan yang BUKAN menjadi pertimbangan Mendel dalam memilih tanaman ercis. Walaupun Mendel memilih ercis karena alasan-alasan diatas, satu hal yang tidak dipertimbangkannya adalah:
Durability atau daya tahan tanaman terhadap cuaca buruk, penyakit, atau serangga bukanlah alasan yang dipertimbangkan Mendel dalam menentukan tanaman untuk penelitiannya. Mengapa? Dalam lingkungan kebun klaster terkontrol, faktor eksternal seperti ini bisa minim. Itu berarti, Mendel memiliki kontrol penuh atas kondisi di mana tanaman tumbuh, jadi durabilitas tanaman tidak menjadi perhatian utama.