

Piutang menjadi bagian penting dalam bisnis karena menunjukkan jumlah uang yang harus dibayar pelanggan untuk barang atau jasa yang mereka terima. Namun, kadang-kadang pelanggan tidak membayar piutang mereka tepat waktu, atau sama sekali, membuat piutang tersebut menjadi “piutang kurang lancar” atau “piutang tidak tertagih”. Untuk mengantisipasi hal ini, perusahaan biasanya membuat estimasi atau penyisihan untuk piutang yang tidak tertagih.
Penyisihan piutang tidak tertagih adalah jumlah perkiraan piutang yang tidak akan dapat diterima oleh perusahaan. Penyisihan ini muncul untuk melindungi perusahaan dari kerugian finansial yang dapat terjadi akibat tidak dibayarnya piutang.
Nilai dari penyisihan ini biasanya ditentukan berdasarkan pengalaman masa lalu perusahaan dan penilaian atas kemampuan pelanggan untuk membayar hutang mereka. Jumlah penyisihan ini dicatat dalam laporan keuangan sebagai beban dan juga sebagai penurunan dari total piutang.
Cara paling umum untuk menghitung penyisihan piutang tidak tertagih adalah dengan menggunakan persentase tertentu dari total piutang. Persentase ini biasanya didasarkan pada pengalaman perusahaan dan industri dalam berurusan dengan piutang yang tidak dibayar.
Misalnya, jika perusahaan memiliki piutang kurang lancar sebesar Rp1.000.000 dan berdasarkan pengalaman, 2% dari total piutang kurang lancar tersebut biasanya tidak tertagih, maka penyisihan yang dibuat adalah Rp20.000 (1.000.000 x 0,02).
Beberapa faktor bisa mempengaruhi besarnya taksiran penyisihan untuk piutang tidak tertagih:
Menakar dan mengantisipasi piutang tidak tertagih penting bagi kesehatan finansial perusahaan. Meski tidak dapat sepenuhnya menghindari situasi di mana piutang tidak dibayar, namun dapat mempersiapkan perusahaan untuk menghadapi kerugian yang mungkin terjadi.