{"id":46714,"date":"2024-06-19T07:05:39","date_gmt":"2024-06-19T00:05:39","guid":{"rendered":"https:\/\/www.domainjava.com\/blog\/artikel\/ditinjau-dari-segi-waktu-sejarah-budaya-demokrasi-di-indonesia-pada-tahun-1959-1966-yaitu-periode-demokrasi\/"},"modified":"2024-06-19T07:05:39","modified_gmt":"2024-06-19T00:05:39","slug":"ditinjau-dari-segi-waktu-sejarah-budaya-demokrasi-di-indonesia-pada-tahun-1959-1966-yaitu-periode-demokrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/ditinjau-dari-segi-waktu-sejarah-budaya-demokrasi-di-indonesia-pada-tahun-1959-1966-yaitu-periode-demokrasi\/","title":{"rendered":"Ditinjau dari Segi Waktu, Sejarah Budaya Demokrasi di Indonesia pada Tahun 1959 \u2013 1966 yaitu Periode Demokrasi\u2026?"},"content":{"rendered":"<p>Selama periode 1959-1966, Indonesia mengalami tahap penting dalam perjalanan demokrasi negara tersebut yang dikenal sebagai periode \u201cDemokrasi Terpimpin\u201d.<\/p>\n<h2>Sejarah Kontekstual<\/h2>\n<p>Pada tahun 1959, Presiden pertama Indonesia, Soekarno, mengumumkan dekrit yang menetapkan kembali konstitusi 1945 serta menandai awal dari era \u201cDemokrasi Terpimpin\u201d. Era ini menandai transisi dari periode Demokrasi Liberal sebelumnya dan berlangsung hingga tahun 1966.<\/p>\n<h2>Ciri-ciri Demokrasi Terpimpin<\/h2>\n<p>Demokrasi Terpimpin adalah rezim politik yang didasarkan pada doktrin Soekarno yang disebut \u201cManipol-USDEK\u201d. Dalam rezim ini, Soekarno memiliki peran penuh dalam politik dan pemerintahan. Penyelenggaraan pemerintahan dilakukan secara sentralistik dan menekankan pada pemimpin dalam menentukan arah kebijakan negara. Oleh karena itu, sistem dapat digambarkan lebih sebagai \u201cotoritarianisme\u201d dibandingkan \u201cdemokrasi\u201d dalam arti tradisional.<\/p>\n<h2>Perkembangan Budaya Demokrasi<\/h2>\n<p>Selama jangka waktu ini, budaya demokrasi dalam masyarakat sempat mengalami dampak. Meskipun rezim Demokrasi Terpimpin memiliki unsur penekanan pada pemimpin satu orang, Soekarno juga sengaja memanfaatkan simbol-simbol budaya tradisional Indonesia dalam penyelenggaraan negara. Upaya ini diberikan untuk mendekatkan masa pemerintahan dengan masyarakat dan menciptakan suasana keterbukaan dalam masyarakat.<\/p>\n<h2>Akhir Era Demokrasi Terpimpin<\/h2>\n<p>Periode Demokrasi Terpimpin berakhir pada tahun 1966, ketika Soekarno diturunkan oleh Soeharto melalui Serangan Umum 1 Maret yang memicu transisi ke era \u201cOrde Baru\u201d. Periode ini kemudian diikuti oleh dramatis perubahan dalam struktur sosial, politik, dan ekonomi Indonesia.<\/p>\n<p>Dengan demikian, periode 1959-1966 dalam sejarah demokrasi Indonesia, dikenal sebagai periode \u201cDemokrasi Terpimpin\u201d. Meskipun bertentangan dengan konsep demokrasi tradisional, periode ini memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan budaya demokrasi di negara tersebut.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selama periode 1959-1966, Indonesia mengalami tahap penting dalam perjalanan demokrasi negara tersebut yang dikenal sebagai periode \u201cDemokrasi Terpimpin\u201d. Sejarah Kontekstual Pada tahun 1959, Presiden pertama Indonesia, Soekarno, mengumumkan dekrit yang menetapkan kembali konstitusi 1945 serta menandai awal dari era \u201cDemokrasi Terpimpin\u201d. Era ini menandai transisi dari periode Demokrasi Liberal sebelumnya dan berlangsung hingga tahun 1966. &#8230; <a title=\"Ditinjau dari Segi Waktu, Sejarah Budaya Demokrasi di Indonesia pada Tahun 1959 \u2013 1966 yaitu Periode Demokrasi\u2026?\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/ditinjau-dari-segi-waktu-sejarah-budaya-demokrasi-di-indonesia-pada-tahun-1959-1966-yaitu-periode-demokrasi\/\" aria-label=\"Baca selengkapnya tentang Ditinjau dari Segi Waktu, Sejarah Budaya Demokrasi di Indonesia pada Tahun 1959 \u2013 1966 yaitu Periode Demokrasi\u2026?\">Baca Selengkapnya<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":74885,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-46714","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wawasan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46714","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46714"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46714\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/74885"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}