{"id":51742,"date":"2025-11-26T14:34:32","date_gmt":"2025-11-26T07:34:32","guid":{"rendered":"https:\/\/www.domainjava.com\/blog\/?p=51742"},"modified":"2025-11-26T14:34:32","modified_gmt":"2025-11-26T07:34:32","slug":"arti-sungkem","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/","title":{"rendered":"Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"214\" data-end=\"696\">Arti Sungkem &#8211; Kalau kamu pernah ikut acara adat Jawa, entah itu saat <strong data-start=\"269\" data-end=\"283\">pernikahan<\/strong>,\u00a0<strong data-start=\"285\" data-end=\"296\">lebaran<\/strong>, atau bahkan momen-momen penting keluarga, pasti kamu akan melihat satu tradisi yang menyentuh:\u00a0<strong data-start=\"393\" data-end=\"406\">sungkeman<\/strong>. Biasanya diiringi dengan suasana haru, air mata, dan pelukan hangat, sungkem dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua atau sesepuh. Tapi sebenarnya,\u00a0<strong data-start=\"571\" data-end=\"608\">apa sih arti sungkem itu sendiri?<\/strong>\u00a0Dan bagaimana praktik ini berkembang dalam budaya Jawa maupun dalam bahasa sehari-hari?<\/p>\n<p data-start=\"698\" data-end=\"1128\">Secara sederhana,\u00a0<strong data-start=\"716\" data-end=\"727\">sungkem<\/strong>\u00a0adalah tindakan\u00a0<strong data-start=\"744\" data-end=\"803\">berlutut dan membungkuk di hadapan orang yang dihormati<\/strong>\u2014biasanya orang tua, kakek-nenek, guru, atau orang yang dituakan\u2014sebagai wujud\u00a0<strong data-start=\"882\" data-end=\"935\">rasa hormat, minta maaf, atau ucapan terima kasih<\/strong>. Dalam bahasa Indonesia, sungkem bisa diterjemahkan sebagai\u00a0<strong data-start=\"996\" data-end=\"1054\">\u201cmenghormat secara fisik dengan penuh kerendahan hati\u201d<\/strong>, tapi makna spiritual dan emosionalnya jauh lebih dalam dari sekadar itu.<\/p>\n<p data-start=\"1130\" data-end=\"1531\">Dalam konteks\u00a0<strong data-start=\"1144\" data-end=\"1163\">pernikahan Jawa<\/strong>, sungkem jadi momen sakral di mana pengantin menyampaikan rasa terima kasih dan permohonan doa restu kepada orang tua. Saat\u00a0<strong data-start=\"1288\" data-end=\"1299\">lebaran<\/strong>, sungkeman juga jadi momen paling ditunggu, ketika anak-anak meminta maaf kepada orang tua dan keluarga besar dengan sepenuh hati. Ini bukan cuma tradisi, tapi cara orang Jawa menjaga nilai\u00a0<strong data-start=\"1490\" data-end=\"1530\">tatakrama dan keluhuran budi pekerti<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"1533\" data-end=\"1916\">Menariknya, sekarang kata \u201csungkem\u201d juga mulai dipakai dalam\u00a0<strong data-start=\"1594\" data-end=\"1609\"><a class=\"wpil_keyword_link\" href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bahasa_Indonesia_gaul\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"bahasa gaul\" data-wpil-keyword-link=\"linked\" data-wpil-monitor-id=\"1414\">bahasa gaul<\/a><\/strong>. Misalnya, saat seseorang menyampaikan rasa hormat atau kagum dalam konteks santai, mereka bisa bilang, \u201cWah, aku sungkem sama suhu!\u201d Di sini, \u201csuhu\u201d berarti orang yang dianggap ahli atau senior. Walaupun nuansanya jadi lebih ringan dan bercanda, tapi tetap nggak lepas dari makna aslinya:\u00a0<strong data-start=\"1900\" data-end=\"1915\">menghormati<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"1918\" data-end=\"1974\">Nah, di pembahasan ini, DomainJava.com bakal bahas secara lengkap:<\/p>\n<ul data-start=\"1975\" data-end=\"2197\">\n<li data-start=\"1975\" data-end=\"2012\">\n<p data-start=\"1977\" data-end=\"2012\">Arti dan asal-usul kata\u00a0<strong data-start=\"2001\" data-end=\"2012\">sungkem<\/strong><\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2013\" data-end=\"2096\">\n<p data-start=\"2015\" data-end=\"2096\"><strong data-start=\"2015\" data-end=\"2035\">Tujuan dan makna<\/strong>\u00a0sungkeman dalam berbagai acara (pernikahan, lebaran, budaya)<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2097\" data-end=\"2129\">\n<p data-start=\"2099\" data-end=\"2129\">Contoh\u00a0<strong data-start=\"2106\" data-end=\"2129\">kata-kata sungkeman<\/strong><\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2130\" data-end=\"2197\">\n<p data-start=\"2132\" data-end=\"2197\">Hingga bagaimana istilah ini dipakai dalam\u00a0<strong data-start=\"2175\" data-end=\"2197\">bahasa gaul modern<\/strong><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"2199\" data-end=\"2305\">Karena di balik gerakan sederhana sungkem, ada nilai-nilai luhur yang pantas kita jaga dan pahami bersama.<\/p>\n<h2 data-start=\"222\" data-end=\"289\"><strong data-start=\"224\" data-end=\"289\">Makna dan Arti &#8220;Sungkem&#8221; dalam Bahasa Jawa &amp; Budaya Indonesia<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"291\" data-end=\"630\">Dalam budaya Jawa, kita mengenal berbagai tradisi yang sarat nilai hormat, sopan santun, dan tata krama. Salah satu tradisi yang sangat kuat makna simbolisnya adalah\u00a0<strong data-start=\"457\" data-end=\"470\">&#8220;sungkem&#8221;<\/strong>. Momen ini tidak hanya menjadi bagian dari upacara adat, tapi juga menyentuh secara emosional karena menjadi simbol rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam.<\/p>\n<p data-start=\"632\" data-end=\"945\">Meskipun sering dilakukan dalam momen sakral seperti pernikahan, Hari Raya Idulfitri (Lebaran), atau acara adat lainnya, tidak semua orang tahu makna asli dari sungkem dan bagaimana cara melakukannya dengan benar. Bahkan, banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya arti dari kata \u201csungkem\u201d dalam Bahasa Indonesia?<\/p>\n<p data-start=\"947\" data-end=\"1250\">Dalam artikel ini, kita akan mengupas secara lengkap mulai dari\u00a0<strong data-start=\"1011\" data-end=\"1059\">arti sungkem dalam Bahasa Jawa dan Indonesia<\/strong>,\u00a0<strong data-start=\"1061\" data-end=\"1088\">ungkapan saat sungkeman<\/strong>, hingga\u00a0<strong data-start=\"1097\" data-end=\"1153\">makna mendalam dalam tradisi pernikahan dan keluarga<\/strong>. Artikel ini akan membantu kamu memahami filosofi sungkem lebih dari sekadar gerakan formalitas.<\/p>\n<hr data-start=\"1252\" data-end=\"1255\" \/>\n<h2 data-start=\"1257\" data-end=\"1277\">Apa Arti Sungkem?<\/h2>\n<p data-start=\"1279\" data-end=\"1606\"><strong data-start=\"1279\" data-end=\"1290\">Sungkem<\/strong>\u00a0adalah sebuah tindakan atau tradisi dalam budaya Jawa yang berarti\u00a0<strong data-start=\"1358\" data-end=\"1481\">bersujud atau membungkuk di hadapan orang tua atau orang yang dihormati sebagai bentuk penghormatan dan permohonan maaf<\/strong>. Ini biasanya dilakukan dengan posisi berlutut, membungkuk, dan menyentuhkan tangan ke kaki atau lutut orang yang dihormati.<\/p>\n<p data-start=\"1608\" data-end=\"1945\">Sungkem bukan sekadar gestur fisik, tetapi juga simbol\u00a0<strong data-start=\"1663\" data-end=\"1682\">kerendahan hati<\/strong>,\u00a0<strong data-start=\"1684\" data-end=\"1693\">bakti<\/strong>, dan\u00a0<strong data-start=\"1699\" data-end=\"1714\">penghargaan<\/strong>\u00a0kepada orang tua, kakek-nenek, guru, atau tokoh sepuh. Dalam banyak budaya lain, bentuk penghormatan bisa berbeda, tapi dalam budaya Jawa, sungkem menjadi salah satu bentuk paling dalam dan tulus dalam mengekspresikan rasa hormat.<\/p>\n<p data-start=\"1947\" data-end=\"2226\">Tradisi ini biasanya dilakukan dalam momen-momen penting seperti\u00a0<strong data-start=\"2012\" data-end=\"2066\">pernikahan, Lebaran (Idulfitri), atau upacara adat<\/strong>. Sungkem juga bisa menjadi simbol permintaan maaf atau restu sebelum menjalankan sesuatu yang besar, misalnya menikah, merantau, atau menjalani kehidupan baru.<\/p>\n<p data-start=\"2228\" data-end=\"2463\">Makna sungkem sangat dalam karena menggambarkan hubungan antar generasi, rasa terima kasih kepada orang tua, dan pengakuan akan jasa dan pengorbanan mereka. Ini bukan hanya adat, tapi juga sarana mempererat ikatan batin dalam keluarga.<\/p>\n<h2 data-start=\"233\" data-end=\"273\"><strong data-start=\"236\" data-end=\"273\">Arti dan Asal-Usul Kata\u00a0<em data-start=\"262\" data-end=\"271\">Sungkem<\/em><\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"275\" data-end=\"641\">Kata\u00a0<strong data-start=\"280\" data-end=\"293\">&#8220;sungkem&#8221;<\/strong>\u00a0berasal dari bahasa Jawa, dan merupakan bentuk ungkapan fisik dan simbolis yang menunjukkan\u00a0<strong data-start=\"386\" data-end=\"429\">rasa hormat, bakti, dan kerendahan hati<\/strong>, terutama kepada orang tua, guru, atau tokoh yang dihormati. Dalam praktiknya, sungkem dilakukan dengan cara\u00a0<strong data-start=\"539\" data-end=\"640\">berlutut, membungkuk, dan menyentuhkan kepala atau tangan ke lutut atau kaki orang yang dihormati<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"643\" data-end=\"1065\">Secara etimologis, beberapa ahli bahasa berpendapat bahwa kata\u00a0<strong data-start=\"706\" data-end=\"719\">&#8220;sungkem&#8221;<\/strong>\u00a0kemungkinan berasal dari kata dasar dalam bahasa Jawa Kuno yang berkaitan dengan \u201csembah\u201d atau \u201csujud\u201d. Kata ini mengalami perkembangan makna dan bentuk hingga menjadi istilah budaya yang kita kenal saat ini. Meski tidak ditemukan dalam kamus bahasa Indonesia formal, \u201csungkem\u201d tetap digunakan secara luas dalam konteks budaya dan adat istiadat.<\/p>\n<p data-start=\"1067\" data-end=\"1377\">Sungkem juga erat kaitannya dengan nilai-nilai\u00a0<strong data-start=\"1114\" data-end=\"1125\">kejawen<\/strong>\u00a0dan\u00a0<strong data-start=\"1130\" data-end=\"1143\">adat Jawa<\/strong>, di mana penghormatan kepada leluhur dan orang tua menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual dan sosial. Oleh sebab itu, praktik sungkem bukan hanya gestur biasa, tapi mengandung\u00a0<strong data-start=\"1329\" data-end=\"1358\">makna moral dan emosional<\/strong>\u00a0yang sangat dalam.<\/p>\n<p data-start=\"1379\" data-end=\"1644\">Tradisi sungkem biasanya diturunkan dari generasi ke generasi. Bahkan bagi orang Jawa yang merantau atau tinggal di luar pulau, sungkem tetap menjadi tradisi yang dijaga, terutama saat momen besar seperti\u00a0<strong data-start=\"1584\" data-end=\"1595\">Lebaran<\/strong>,\u00a0<strong data-start=\"1597\" data-end=\"1611\">pernikahan<\/strong>, atau\u00a0<strong data-start=\"1618\" data-end=\"1643\">upacara adat keluarga<\/strong>.<\/p>\n<h2 data-start=\"2470\" data-end=\"2505\">Apa Bahasa Indonesianya Sungkem?<\/h2>\n<p data-start=\"2507\" data-end=\"2836\">Dalam Bahasa Indonesia,\u00a0<strong data-start=\"2531\" data-end=\"2544\">&#8220;sungkem&#8221;<\/strong>\u00a0bisa diartikan sebagai\u00a0<strong data-start=\"2568\" data-end=\"2671\">&#8220;tindakan sujud atau membungkuk dengan penuh hormat di hadapan orang tua atau orang yang dihormati&#8221;<\/strong>. Kadang-kadang juga disebut dengan istilah seperti\u00a0<strong data-start=\"2723\" data-end=\"2741\">&#8220;sembah sujud&#8221;<\/strong>,\u00a0<strong data-start=\"2743\" data-end=\"2784\">&#8220;permohonan maaf dengan simbol tubuh&#8221;<\/strong>, atau\u00a0<strong data-start=\"2791\" data-end=\"2836\">&#8220;tindakan penghormatan dengan bersimpuh.&#8221;<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"2838\" data-end=\"3118\">Namun, sungkem sebenarnya tidak memiliki padanan kata tunggal yang setara dalam Bahasa Indonesia karena ia mengandung nilai-nilai budaya yang sangat khas dan mendalam. Oleh sebab itu, dalam banyak literatur atau acara resmi, kata\u00a0<strong data-start=\"3068\" data-end=\"3117\">&#8220;sungkem&#8221; tetap digunakan tanpa diterjemahkan<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"3120\" data-end=\"3375\">Tindakan ini lebih dari sekadar permohonan maaf. Sungkem mencakup makna spiritual, emosional, dan simbolis tentang hubungan manusia dengan orang tua atau orang yang lebih tua. Ini menjadikannya sangat khas budaya Jawa dan sulit dipisahkan dari konteksnya.<\/p>\n<p data-start=\"3377\" data-end=\"3528\">Jadi, meskipun bisa dijelaskan dalam Bahasa Indonesia,\u00a0<strong data-start=\"3432\" data-end=\"3528\">&#8220;sungkem&#8221; tetap lebih kuat secara makna bila dipahami dalam konteks budaya Jawa secara utuh.<\/strong><\/p>\n<h2 data-start=\"3535\" data-end=\"3572\">Apa Itu Sungkem dalam Bahasa Jawa?<\/h2>\n<p data-start=\"3574\" data-end=\"3859\">Dalam Bahasa Jawa, kata\u00a0<strong data-start=\"3598\" data-end=\"3611\">&#8220;sungkem&#8221;<\/strong>\u00a0berasal dari akar kata yang memiliki makna\u00a0<strong data-start=\"3655\" data-end=\"3706\">berlutut dan menyembah dengan penuh rasa hormat<\/strong>. Secara linguistik, kata ini sangat erat kaitannya dengan konsep\u00a0<strong data-start=\"3772\" data-end=\"3786\">tata krama<\/strong>\u00a0atau\u00a0<strong data-start=\"3792\" data-end=\"3809\">unggah-ungguh<\/strong>, yaitu aturan sopan santun dalam masyarakat Jawa.<\/p>\n<p data-start=\"3861\" data-end=\"4140\">Tradisi sungkem dilakukan dengan\u00a0<strong data-start=\"3894\" data-end=\"4055\">berlutut di depan orang tua, menyembah (menangkupkan tangan), lalu membungkuk hingga kepala mendekati lutut atau menyentuh tangan\/ kaki orang yang dihormati.<\/strong>\u00a0Ini dilakukan sambil mengucapkan permohonan maaf, restu, atau ungkapan terima kasih.<\/p>\n<p data-start=\"4142\" data-end=\"4445\">Sungkem tidak hanya terbatas pada hubungan anak kepada orang tua, tetapi juga berlaku kepada\u00a0<strong data-start=\"4235\" data-end=\"4300\">kakek-nenek, guru, sesepuh desa, atau bahkan tokoh masyarakat<\/strong>. Dalam ajaran Jawa, orang yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua, dan sungkem menjadi cara paling simbolik untuk menyampaikan hal itu.<\/p>\n<p data-start=\"4447\" data-end=\"4728\">Ungkapan-ungkapan yang sering menyertai sungkem dalam Bahasa Jawa misalnya:\u00a0<strong data-start=\"4523\" data-end=\"4547\">\u201cnyuwun pangapunten\u201d<\/strong>\u00a0(mohon maaf),\u00a0<strong data-start=\"4562\" data-end=\"4583\">\u201cnyuwun pangestu\u201d<\/strong>\u00a0(mohon restu), atau\u00a0<strong data-start=\"4604\" data-end=\"4628\">\u201cmatur nuwun sanget\u201d<\/strong> (terima kasih banyak). Kalimat-kalimat ini menambah kekhusyukan dan makna saat melakukan sungkeman.<\/p>\n<h2 data-start=\"4735\" data-end=\"4766\">Saat Sungkeman, Ngomong Apa?<\/h2>\n<p data-start=\"4768\" data-end=\"5031\">Ketika melakukan sungkeman, ada beberapa ucapan atau kalimat yang biasa diucapkan sebagai bagian dari tata krama dan nilai spiritual dalam budaya Jawa. Kalimat-kalimat ini biasanya pendek namun sarat makna, dan disampaikan dengan nada lembut serta penuh perasaan.<\/p>\n<p data-start=\"5033\" data-end=\"5060\">Kalimat paling umum adalah:<\/p>\n<ul data-start=\"5061\" data-end=\"5191\">\n<li data-start=\"5061\" data-end=\"5100\">\n<p data-start=\"5063\" data-end=\"5100\"><strong data-start=\"5063\" data-end=\"5087\">\u201cNyuwun pangapunten\u201d<\/strong>\u00a0= Mohon maaf<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"5101\" data-end=\"5142\">\n<p data-start=\"5103\" data-end=\"5142\"><strong data-start=\"5103\" data-end=\"5124\">\u201cNyuwun pangestu\u201d<\/strong>\u00a0= Mohon doa restu<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"5143\" data-end=\"5191\">\n<p data-start=\"5145\" data-end=\"5191\"><strong data-start=\"5145\" data-end=\"5169\">\u201cMatur nuwun sanget\u201d<\/strong>\u00a0= Terima kasih banyak<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"5193\" data-end=\"5423\">Dalam konteks sungkeman pernikahan, calon pengantin biasanya berkata:<br data-start=\"5262\" data-end=\"5265\" \/><strong data-start=\"5265\" data-end=\"5346\">\u201cNyuwun pangapunten, nyuwun pangestu, mugi tansah pinaringan berkah lan rido\u201d<\/strong><br data-start=\"5346\" data-end=\"5349\" \/>Artinya: \u201cMohon maaf, mohon restu, semoga selalu diberi berkah dan ridho.\u201d<\/p>\n<p data-start=\"5425\" data-end=\"5601\">Yang terpenting dalam ucapan saat sungkeman adalah\u00a0<strong data-start=\"5476\" data-end=\"5510\">ketulusan hati dan rasa hormat<\/strong>. Tidak harus panjang, yang penting disampaikan dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati.<\/p>\n<h2 data-start=\"5608\" data-end=\"5664\">Arti Sungkem kepada Suhu, Sepuh, dan dalam Pernikahan<\/h2>\n<p data-start=\"5666\" data-end=\"6009\"><strong data-start=\"5666\" data-end=\"5689\">Sungkem kepada suhu<\/strong>\u00a0biasanya berarti memberikan penghormatan kepada seorang guru spiritual, tokoh agama, atau orang yang dituakan dalam komunitas tertentu. Kata\u00a0<strong data-start=\"5831\" data-end=\"5841\">\u201csuhu\u201d<\/strong>\u00a0sendiri berasal dari bahasa Tionghoa yang berarti guru atau pembimbing rohani. Dalam konteks ini, sungkem adalah simbol penyerahan diri untuk menerima ilmu atau restu.<\/p>\n<p data-start=\"6011\" data-end=\"6302\"><strong data-start=\"6011\" data-end=\"6035\">Sungkem kepada sepuh<\/strong>\u00a0berarti memberikan penghormatan kepada orang yang lebih tua, seperti orang tua, kakek-nenek, atau tokoh masyarakat. \u201cSepuh\u201d dalam Bahasa Jawa berarti \u201corang yang dituakan atau lebih tua\u201d. Biasanya dilakukan dalam momen lebaran, pernikahan, atau acara keluarga besar.<\/p>\n<p data-start=\"6304\" data-end=\"6583\">Dalam konteks\u00a0<strong data-start=\"6318\" data-end=\"6332\">pernikahan<\/strong>, sungkem menjadi salah satu prosesi yang paling emosional. Pengantin melakukan sungkem kepada orang tua sebagai\u00a0<strong data-start=\"6445\" data-end=\"6515\">ungkapan terima kasih atas kasih sayang dan pengorbanan selama ini<\/strong>, sekaligus memohon restu untuk memulai hidup baru bersama pasangan.<\/p>\n<p data-start=\"6585\" data-end=\"6818\">Momen sungkem ini sering diiringi air mata haru dari kedua belah pihak. Di sinilah makna sungkem terasa sangat dalam: sebagai perpisahan simbolik antara anak dan orang tua, dan sebagai awal dari kehidupan baru dengan ridho orang tua.<\/p>\n<h2 data-start=\"1651\" data-end=\"1684\"><strong data-start=\"1654\" data-end=\"1684\">Contoh Kata-Kata Sungkeman<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"1686\" data-end=\"1948\">Ketika melakukan sungkem, kata-kata yang diucapkan menjadi bagian penting dari proses tersebut. Ucapan ini biasanya disampaikan dengan penuh perasaan, suara lembut, dan sikap rendah hati. Berikut adalah beberapa contoh kalimat yang umum digunakan saat sungkeman:<\/p>\n<ol data-start=\"1950\" data-end=\"2747\">\n<li data-start=\"1950\" data-end=\"2128\">\n<p data-start=\"1953\" data-end=\"2128\"><strong data-start=\"1953\" data-end=\"2044\">\u201cNyuwun pangapunten sedoyo kalepatan kula, mugi panjenengan kerso maringi pangapunten.\u201d<\/strong><br data-start=\"2044\" data-end=\"2047\" \/><em data-start=\"2050\" data-end=\"2128\">Mohon maaf atas segala kesalahan saya, semoga Anda berkenan memberikan maaf.<\/em><\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2130\" data-end=\"2332\">\n<p data-start=\"2133\" data-end=\"2332\"><strong data-start=\"2133\" data-end=\"2230\">\u201cNyuwun pangestu, mugi kula saged nglampahi urip enggal kanthi berkah lan ridho panjenengan.\u201d<\/strong><br data-start=\"2230\" data-end=\"2233\" \/><em data-start=\"2236\" data-end=\"2332\">Mohon doa restu, semoga saya dapat menjalani kehidupan baru dengan berkah dan ridho dari Anda.<\/em><\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2334\" data-end=\"2512\">\n<p data-start=\"2337\" data-end=\"2512\"><strong data-start=\"2337\" data-end=\"2427\">\u201cMatur nuwun sanget atas segala pengorbanan lan welas asih panjenengan dumateng kula.\u201d<\/strong><br data-start=\"2427\" data-end=\"2430\" \/><em data-start=\"2433\" data-end=\"2512\">Terima kasih banyak atas semua pengorbanan dan kasih sayang Anda kepada saya.<\/em><\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2514\" data-end=\"2747\">\n<p data-start=\"2517\" data-end=\"2747\"><strong data-start=\"2517\" data-end=\"2636\">\u201cKula nyuwun ngapunten bilih wonten kekilapan, mugi panjenengan tansah diparingi sehat, panjang yuswa, lan rahayu.\u201d<\/strong><br data-start=\"2636\" data-end=\"2639\" \/><em data-start=\"2642\" data-end=\"2747\">Saya mohon maaf jika ada kesalahan, semoga Anda selalu diberi kesehatan, umur panjang, dan keselamatan.<\/em><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p data-start=\"2749\" data-end=\"2965\">Kata-kata tersebut sering digunakan dalam\u00a0<strong data-start=\"2791\" data-end=\"2815\">sungkeman pernikahan<\/strong>,\u00a0<strong data-start=\"2817\" data-end=\"2838\">sungkeman lebaran<\/strong>, atau saat\u00a0<strong data-start=\"2850\" data-end=\"2896\">memohon restu kepada orang tua dan sesepuh<\/strong>. Intinya adalah menyampaikan permohonan maaf dan restu secara tulus.<\/p>\n<h2 data-start=\"6825\" data-end=\"6854\">Tujuan dan Makna Sungkeman<\/h2>\n<p data-start=\"6856\" data-end=\"7144\">Tujuan utama dari sungkeman adalah untuk\u00a0<strong data-start=\"6897\" data-end=\"6976\">mengungkapkan rasa hormat, terima kasih, permohonan maaf, dan memohon restu<\/strong>\u00a0kepada orang yang lebih tua atau lebih dihormati. Ini bukan hanya tentang tata krama, tapi juga tentang menyambung hati dan menyatukan perasaan antar anggota keluarga.<\/p>\n<p data-start=\"7146\" data-end=\"7183\">Makna mendalam dari sungkem mencakup:<\/p>\n<ul data-start=\"7184\" data-end=\"7641\">\n<li data-start=\"7184\" data-end=\"7290\">\n<p data-start=\"7186\" data-end=\"7290\"><strong data-start=\"7186\" data-end=\"7209\">Menghapus kesalahan<\/strong>: dengan sungkem, seseorang mengakui kekhilafan dan meminta maaf secara simbolik.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"7291\" data-end=\"7381\">\n<p data-start=\"7293\" data-end=\"7381\"><strong data-start=\"7293\" data-end=\"7311\">Menerima restu<\/strong>: sungkem adalah media untuk meminta doa baik sebelum memulai sesuatu.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"7382\" data-end=\"7521\">\n<p data-start=\"7384\" data-end=\"7521\"><strong data-start=\"7384\" data-end=\"7413\">Mempererat hubungan batin<\/strong>: sungkem menunjukkan bahwa seseorang tidak melupakan jasa orang tua atau orang yang berjasa dalam hidupnya.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"7522\" data-end=\"7641\">\n<p data-start=\"7524\" data-end=\"7641\"><strong data-start=\"7524\" data-end=\"7562\">Menjaga budaya dan warisan leluhur<\/strong>: sungkeman adalah tradisi turun-temurun yang memperkuat identitas budaya Jawa.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"7643\" data-end=\"7823\">Oleh karena itu, sungkeman tidak boleh dianggap sekadar formalitas atau rutinitas. Ia adalah wujud nyata dari nilai moral dan spiritual yang dijunjung tinggi dalam masyarakat Jawa.<\/p>\n<h2 data-start=\"2972\" data-end=\"3041\"><strong data-start=\"2975\" data-end=\"3041\">Bagaimana Istilah \u201cSungkem\u201d Digunakan dalam Bahasa Gaul Modern<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"3043\" data-end=\"3398\">Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, istilah\u00a0<strong data-start=\"3094\" data-end=\"3107\">&#8220;sungkem&#8221;<\/strong>\u00a0mulai merambah ke\u00a0<strong data-start=\"3126\" data-end=\"3148\">bahasa gaul modern<\/strong>\u00a0atau\u00a0<strong data-start=\"3154\" data-end=\"3173\">slang anak muda<\/strong>, terutama di media sosial seperti Twitter (X), TikTok, dan Instagram. Meski tetap mempertahankan makna dasarnya sebagai bentuk \u201cpenghormatan\u201d atau \u201cpengakuan superioritas\u201d, penggunaannya kini lebih\u00a0<strong data-start=\"3372\" data-end=\"3397\">figuratif dan humoris<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"3400\" data-end=\"3427\">Misalnya, ungkapan seperti:<\/p>\n<ul data-start=\"3428\" data-end=\"3974\">\n<li data-start=\"3428\" data-end=\"3585\">\n<p data-start=\"3430\" data-end=\"3585\"><strong data-start=\"3430\" data-end=\"3473\">&#8220;Sungkem dulu sama suhu desain grafis!&#8221;<\/strong><br data-start=\"3473\" data-end=\"3476\" \/>Artinya: Mengakui kehebatan seseorang di bidang desain dengan cara bercanda atau memuji secara hiperbolis.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"3587\" data-end=\"3773\">\n<p data-start=\"3589\" data-end=\"3773\"><strong data-start=\"3589\" data-end=\"3649\">&#8220;Aku sungkem sama kamu yang bisa lulus skripsi 3 bulan!&#8221;<\/strong><br data-start=\"3649\" data-end=\"3652\" \/>Digunakan untuk menunjukkan kekaguman yang besar, sambil tetap santai dan tidak serius secara fisik melakukan sungkem.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"3775\" data-end=\"3974\">\n<p data-start=\"3777\" data-end=\"3974\"><strong data-start=\"3777\" data-end=\"3844\">&#8220;Sungkem sama mbak-mbak skincare yang wajahnya glowing banget!&#8221;<\/strong><br data-start=\"3844\" data-end=\"3847\" \/>Di sini, sungkem dipakai sebagai bentuk candaan atau pujian terhadap seseorang yang dianggap &#8220;lebih tinggi&#8221; dalam suatu hal.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"3976\" data-end=\"4268\">Penggunaan ini tentu\u00a0<strong data-start=\"3997\" data-end=\"4014\">tidak literal<\/strong>, tapi menunjukkan betapa budaya Jawa tetap hidup dan bahkan bertransformasi mengikuti zaman. Kata \u201csungkem\u201d menjadi bagian dari bahasa gaul yang dipakai lintas suku dan daerah, meski dengan nuansa yang lebih ringan dan tidak setradisional maknanya dulu.<\/p>\n<p data-start=\"4270\" data-end=\"4489\">Namun, dalam konteks formal dan adat, makna asli sungkem tetap dijaga dan dihormati. Ini adalah contoh bagus bagaimana bahasa daerah bisa\u00a0<strong data-start=\"4408\" data-end=\"4489\">berkembang secara fleksibel namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya.<\/strong><\/p>\n<h2 data-start=\"81\" data-end=\"92\">Penutup<\/h2>\n<p data-start=\"94\" data-end=\"410\">Sungkeman bukan sekadar tradisi atau gerakan fisik, tapi sebuah ungkapan rasa hormat, cinta, dan kerendahan hati yang sudah diwariskan turun-temurun dalam budaya Jawa. Dari momen pernikahan hingga lebaran, sungkem mengajarkan kita untuk selalu menghargai orang tua dan sesepuh sebagai bentuk syukur dan penghormatan.<\/p>\n<p data-start=\"412\" data-end=\"733\">Meskipun kini istilah sungkem juga dipakai dalam bahasa gaul dengan cara yang lebih santai, makna dasarnya tetap kuat dan penting untuk kita pahami. Dengan menjaga dan melestarikan tradisi ini, kita tidak hanya menghormati budaya, tapi juga memperkuat ikatan keluarga dan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p data-start=\"735\" data-end=\"831\">Jadi, yuk terus lestarikan tradisi sungkem sebagai wujud rasa hormat yang tulus dan penuh makna.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Arti Sungkem &#8211; Kalau kamu pernah ikut acara adat Jawa, entah itu saat pernikahan,\u00a0lebaran, atau bahkan momen-momen penting keluarga, pasti kamu akan melihat satu tradisi yang menyentuh:\u00a0sungkeman. Biasanya diiringi dengan suasana haru, air mata, dan pelukan hangat, sungkem dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua atau sesepuh. Tapi sebenarnya,\u00a0apa sih arti sungkem itu sendiri?\u00a0Dan bagaimana &#8230; <a title=\"Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/\" aria-label=\"Read more about Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-51742","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-inspirasi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v27.3 (Yoast SEO v27.7) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa - DomainJava Blog<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Arti Sungkem &#8211; Kalau kamu pernah ikut acara adat Jawa, entah itu saat pernikahan,\u00a0lebaran, atau bahkan momen-momen penting keluarga, pasti kamu akan melihat satu tradisi yang menyentuh:\u00a0sungkeman. Biasanya diiringi dengan suasana haru, air mata, dan pelukan hangat, sungkem dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua atau sesepuh. Tapi sebenarnya,\u00a0apa sih arti sungkem itu sendiri?\u00a0Dan bagaimana ... Read more\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"DomainJava Blog\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-26T07:34:32+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"DomainJava\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"DomainJava\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/arti-sungkem\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/arti-sungkem\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"DomainJava\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/3c243940a5e3e43cffa1312a02aafeaf\"},\"headline\":\"Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa\",\"datePublished\":\"2025-11-26T07:34:32+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/arti-sungkem\\\/\"},\"wordCount\":1979,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Inspirasi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"copyrightYear\":\"2025\",\"copyrightHolder\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/#organization\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/arti-sungkem\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/arti-sungkem\\\/\",\"name\":\"Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa - DomainJava Blog\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-26T07:34:32+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/arti-sungkem\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/arti-sungkem\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/arti-sungkem\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Inspirasi\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/category\\\/inspirasi\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/\",\"name\":\"DomainJava Blog\",\"description\":\"Inspiration For You\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/#organization\",\"name\":\"DomainJava\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/Domain-Java.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/Domain-Java.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"DomainJava\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/3c243940a5e3e43cffa1312a02aafeaf\",\"name\":\"DomainJava\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/d883fd2eba9c8d531a4346562d630089.jpg?ver=1780683634\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/d883fd2eba9c8d531a4346562d630089.jpg?ver=1780683634\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/wp-content\\\/litespeed\\\/avatar\\\/d883fd2eba9c8d531a4346562d630089.jpg?ver=1780683634\",\"caption\":\"DomainJava\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/www.domainjava.com\\\/id\\\/blog\\\/author\\\/domainjava\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa - DomainJava Blog","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa","og_description":"Arti Sungkem &#8211; Kalau kamu pernah ikut acara adat Jawa, entah itu saat pernikahan,\u00a0lebaran, atau bahkan momen-momen penting keluarga, pasti kamu akan melihat satu tradisi yang menyentuh:\u00a0sungkeman. Biasanya diiringi dengan suasana haru, air mata, dan pelukan hangat, sungkem dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua atau sesepuh. Tapi sebenarnya,\u00a0apa sih arti sungkem itu sendiri?\u00a0Dan bagaimana ... Read more","og_url":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/","og_site_name":"DomainJava Blog","article_published_time":"2025-11-26T07:34:32+00:00","author":"DomainJava","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"DomainJava","Est. reading time":"10 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/"},"author":{"name":"DomainJava","@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/#\/schema\/person\/3c243940a5e3e43cffa1312a02aafeaf"},"headline":"Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa","datePublished":"2025-11-26T07:34:32+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/"},"wordCount":1979,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/#organization"},"articleSection":["Inspirasi"],"inLanguage":"id","copyrightYear":"2025","copyrightHolder":{"@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/#organization"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/","url":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/","name":"Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa - DomainJava Blog","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/#website"},"datePublished":"2025-11-26T07:34:32+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/arti-sungkem\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Inspirasi","item":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/category\/inspirasi\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Apa Arti Sungkem? Makna, Tujuan, dan Tradisi Jawa"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/#website","url":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/","name":"DomainJava Blog","description":"Inspiration For You","publisher":{"@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/#organization","name":"DomainJava","url":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Domain-Java.png","contentUrl":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Domain-Java.png","width":512,"height":512,"caption":"DomainJava"},"image":{"@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/#\/schema\/person\/3c243940a5e3e43cffa1312a02aafeaf","name":"DomainJava","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-content\/litespeed\/avatar\/d883fd2eba9c8d531a4346562d630089.jpg?ver=1780683634","url":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-content\/litespeed\/avatar\/d883fd2eba9c8d531a4346562d630089.jpg?ver=1780683634","contentUrl":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-content\/litespeed\/avatar\/d883fd2eba9c8d531a4346562d630089.jpg?ver=1780683634","caption":"DomainJava"},"sameAs":["https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog"],"url":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/author\/domainjava\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51742","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=51742"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/51742\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=51742"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=51742"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=51742"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}