{"id":11352,"date":"2024-06-19T06:24:42","date_gmt":"2024-06-18T23:24:42","guid":{"rendered":"https:\/\/www.domainjava.com\/blog\/artikel\/jelaskan-ciri-ciri-penting-penulisan-sejarah-yang-neerlandosentris\/"},"modified":"2024-06-19T06:24:42","modified_gmt":"2024-06-18T23:24:42","slug":"jelaskan-ciri-ciri-penting-penulisan-sejarah-yang-neerlandosentris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/jelaskan-ciri-ciri-penting-penulisan-sejarah-yang-neerlandosentris\/","title":{"rendered":"Jelaskan Ciri-Ciri Penting Penulisan Sejarah yang Neerlandosentris"},"content":{"rendered":"<p>Neerlandosentrisme adalah perspektif yang menekankan pada pandangan dan interpretasi sejarah dari sudut pandang Belanda atau Neerlandia. Penulisan sejarah yang berorientasi pada sudut pandang ini biasanya mendominasi diskursus sejarah selama masa kolonial Belanda, khususnya dalam konteks Indonesia. Beberapa ciri-ciri penting dari penulisan sejarah yang Neerlandosentris antara lain sebagai berikut:<\/p>\n<h2>1. Fokus pada Perjalanan dan Pengaruh Belanda<\/h2>\n<p>Salah satu ciri paling mencolok dari penulisan yang Neerlandosentris adalah adanya fokus pada perjalanan, misi, dan pengaruh Belanda dalam sejarah. Misalnya, penulisan sejarah akan banyak berfokus pada bagaimana Belanda mengeksplorasi dan menguasai berbagai wilayah di dunia, termasuk Indonesia.<\/p>\n<h2>2. Pandangan Kolonial<\/h2>\n<p>Penulisan sejarah yang Neerlandosentris biasanya disertai dengan sudut pandang kolonial. Ini berarti bahwa penulis biasanya merepresentasikan sejarah coloni melalui lensa kolonialisme, dengan menekankan bahwa kedatangan dan dominasi Belanda merupakan suatu yang positif dan membawa kemajuan bagi orang-orang di coloni.<\/p>\n<h2>3. Penomoran Belanda<\/h2>\n<p>Ciri lain dari penulisan sejarah yang Neerlandosentris adalah penggunaan cara penomoran Belanda dalam penulisan tanggal dan waktu. Ini termasuk format tanggal seperti \u201cDD-MM-YYYY\u201d, penggunaan 24 jam, dan penulisan nomor dengan titik sebagai pemisah ribuan dan koma sebagai pemisah desimal.<\/p>\n<h2>4. Negosiasi Riwayat dan Identitas<\/h2>\n<p>Penulisan sejarah Neerlandosentris seringkali melibatkan negosiasi riwayat dan identitas. Ini berkaitan erat dengan cara seorang penulis menceritakan sejarah dan bagaimana mereka memposisikan orang-orang dan peristiwa dalam narasi tersebut. Biasanya, penulis akan menampilkan Belanda sebagai penentu sejarah dan penduduk asli sebagai subjek pasif.<\/p>\n<h2>5. Bahasa Belanda<\/h2>\n<p>Akhirnya, salah satu ciri yang paling jelas dan sering tidak disadari adalah penggunaan bahasa Belanda dalam penulisan. Bahasa ini bukan hanya digunakan untuk menulis sejarah, tetapi juga digunakan dalam citraan, simbol, dan representasi lainnya yang berhubungan dengan sejarah.<\/p>\n<p>Dalam konteks Indonesia, penulisan sejarah yang Neerlandosentris seringkali dianggap memutarbalikkan narasi sejarah dan meremehkan peran penduduk asli dalam membentuk sejarah mereka sendiri. Oleh karena itu, sangat penting untuk tetap kritis terhadap sudut pandang yang disajikan dalam penulisan sejarah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Neerlandosentrisme adalah perspektif yang menekankan pada pandangan dan interpretasi sejarah dari sudut pandang Belanda atau Neerlandia. Penulisan sejarah yang berorientasi pada sudut pandang ini biasanya mendominasi diskursus sejarah selama masa kolonial Belanda, khususnya dalam konteks Indonesia. Beberapa ciri-ciri penting dari penulisan sejarah yang Neerlandosentris antara lain sebagai berikut: 1. Fokus pada Perjalanan dan Pengaruh Belanda &#8230; <a title=\"Jelaskan Ciri-Ciri Penting Penulisan Sejarah yang Neerlandosentris\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/jelaskan-ciri-ciri-penting-penulisan-sejarah-yang-neerlandosentris\/\" aria-label=\"Baca selengkapnya tentang Jelaskan Ciri-Ciri Penting Penulisan Sejarah yang Neerlandosentris\">Baca Selengkapnya<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":74885,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-11352","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wawasan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11352","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11352"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11352\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/74885"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11352"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11352"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11352"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}