{"id":35023,"date":"2026-06-10T18:51:37","date_gmt":"2026-06-10T11:51:37","guid":{"rendered":"https:\/\/www.domainjava.com\/blog\/artikel\/?p=35023"},"modified":"2026-06-10T18:51:42","modified_gmt":"2026-06-10T11:51:42","slug":"latihan-pemahaman-modul-2-topik-2-pembelajaran-sosial-emosional-apa-dan-bagaimana-menerapkannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/latihan-pemahaman-modul-2-topik-2-pembelajaran-sosial-emosional-apa-dan-bagaimana-menerapkannya\/","title":{"rendered":"Latihan Pemahaman Modul 2 Topik 2: Pembelajaran Sosial Emosional &#8211; Apa dan Bagaimana Menerapkannya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam pendidikan, salah satu aspek yang semakin mendapat perhatian besar adalah pengembangan kompetensi sosial emosional (KSE) pada peserta didik. Modul 2, Topik 2 dalam Program Pendidikan Guru (PPG) menyajikan materi yang penting mengenai <strong>Pembelajaran Sosial Emosional<\/strong> dan penerapannya dalam proses belajar-mengajar. Pembelajaran sosial emosional tidak hanya membantu peserta didik dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pengelolaan diri, hubungan dengan orang lain, serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. <\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Modul 2 Topik 2: Pembelajaran Sosial Emosional<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artikel ini akan membahas <a class=\"wpil_keyword_link\" href=\"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/tag\/soal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"Soal\" data-wpil-keyword-link=\"linked\" data-wpil-monitor-id=\"2724\">soal<\/a> latihan pemahaman yang dirancang untuk menguji pemahaman peserta PPG tentang konsep dan penerapan pembelajaran sosial emosional.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Soal 1: Kompetensi Sosial Emosional menurut CASEL<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertanyaan:<\/strong> Berikut ini adalah kompetensi sosial emosional menurut CASEL, kecuali:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>a) Kesadaran diri<\/li>\n\n\n\n<li>b) Manajemen proses pembelajaran<\/li>\n\n\n\n<li>c) Manajemen diri<\/li>\n\n\n\n<li>d) Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab<\/li>\n\n\n\n<li>e) Kesadaran sosial<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jawaban:<\/strong> b) Manajemen proses pembelajaran<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penjelasan:<\/strong> CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning) merumuskan lima kompetensi sosial emosional yang meliputi: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan hubungan, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. &#8220;Manajemen proses pembelajaran&#8221; bukan bagian dari kompetensi sosial emosional yang diakui oleh CASEL. Fokus pada pengelolaan pembelajaran adalah lebih terkait dengan keterampilan manajemen kelas dan kurikulum, bukan dengan kompetensi sosial emosional.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Soal 2: Kompetensi Sosial Emosional dalam Membina Hubungan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertanyaan:<\/strong> Apabila seorang guru telah mampu menjalin dan mempertahankan hubungan\/relasi yang sehat dan efektif dengan individu dari latar belakang yang berbeda, seperti dengan peserta didik, orang tua, masyarakat, dan lainnya, artinya guru tersebut telah memiliki kompetensi sosial emosional, yaitu kompetensi&#8230;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>a) Relationship skills<\/li>\n\n\n\n<li>b) Self-management<\/li>\n\n\n\n<li>c) Social awareness<\/li>\n\n\n\n<li>d) Responsible decision making<\/li>\n\n\n\n<li>e) Self-awareness<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jawaban:<\/strong> a) Relationship skills<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penjelasan:<\/strong> Kompetensi sosial emosional yang memungkinkan seseorang untuk menjalin dan mempertahankan hubungan yang sehat dan efektif adalah &#8220;relationship skills&#8221; atau keterampilan hubungan. Guru yang memiliki keterampilan ini mampu berkomunikasi dengan baik, membangun hubungan positif dengan <a class=\"wpil_keyword_link\" href=\"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/tag\/siswa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"siswa\" data-wpil-keyword-link=\"linked\" data-wpil-monitor-id=\"7996\">siswa<\/a>, orang tua, dan masyarakat, serta mampu menangani berbagai dinamika sosial dalam lingkungan pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Soal 3: Memahami Perspektif Perkembangan Peserta Didik<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertanyaan:<\/strong> Dalam konteks pembelajaran sosial emosional, mengapa penting untuk memahami perspektif perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu?<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>a) Agar peserta didik dapat lebih fokus pada keunggulan akademik.<\/li>\n\n\n\n<li>b) Untuk mengevaluasi kinerja administratif sekolah.<\/li>\n\n\n\n<li>c) Agar dapat merumuskan standar yang sesuai dengan usia dan tugas perkembangan peserta didik.<\/li>\n\n\n\n<li>d) Untuk menunjukkan empati terhadap kondisi individu dengan latar belakang yang berbeda.<\/li>\n\n\n\n<li>e) Agar peserta didik dapat membuat keputusan yang bertanggung jawab.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jawaban:<\/strong> c) Agar dapat merumuskan standar yang sesuai dengan usia dan tugas perkembangan peserta didik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penjelasan:<\/strong> Memahami perkembangan peserta didik sangat penting agar guru dapat merumuskan standar dan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan usia serta tugas perkembangan mereka. Hal ini memungkinkan guru untuk menyusun strategi yang tepat dan relevan dalam mendukung perkembangan sosial emosional peserta didik, baik dalam hal kognitif, sosial, maupun emosional.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Soal 4: Teknik STOP dalam Pembelajaran Sosial Emosional<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertanyaan:<\/strong> Ada beberapa teknik untuk melatih keterampilan sosial emosional (KSE), diantaranya teknik STOP. Teknik ini diterapkan untuk melatih keterampilan sosial emosional berikut ini&#8230;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>a) Kesadaran sosial<\/li>\n\n\n\n<li>b) Kesadaran diri<\/li>\n\n\n\n<li>c) Manajemen diri<\/li>\n\n\n\n<li>d) Keterampilan sosial<\/li>\n\n\n\n<li>e) Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jawaban:<\/strong> c) Manajemen diri<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penjelasan:<\/strong> Teknik STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed) adalah teknik yang digunakan untuk membantu individu mengelola emosinya, khususnya dalam situasi yang menantang atau penuh tekanan. Teknik ini membantu peserta didik dalam mengelola diri, menenangkan diri, dan merespons dengan lebih baik dalam situasi yang penuh emosi, yang merupakan bagian dari manajemen diri dalam kompetensi sosial emosional.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Soal 5: Penerapan Teknik &#8220;Empati Walk&#8221;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertanyaan:<\/strong> Bagaimana penerapan teknik &#8220;Empati Walk&#8221; secara efektif dapat berkontribusi pada pengembangan kompetensi sosial emosional peserta didik dengan menggabungkan elemen kegiatan lapangan dan refleksi?<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>a) Memahami variasi budaya di lingkungan sekitar dan meresapi pengalaman tersebut<\/li>\n\n\n\n<li>b) Menilai dampak positif pada kesejahteraan mental peserta didik<\/li>\n\n\n\n<li>c) Mendorong peserta didik membuat keputusan yang bertanggung jawab<\/li>\n\n\n\n<li>d) Agar peserta didik dapat lebih fokus pada keunggulan akademik<\/li>\n\n\n\n<li>e) Menyortir pilihan-pilihan yang diberikan dan menggambarkan pengalaman pribadi<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jawaban:<\/strong> a) Memahami variasi budaya di lingkungan sekitar dan meresapi pengalaman tersebut<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penjelasan:<\/strong> Teknik &#8220;Empati Walk&#8221; mengajak peserta didik untuk berjalan di sekitar lingkungan mereka, mengamati, dan memahami pengalaman serta perspektif orang lain yang mungkin berbeda. Aktivitas ini membantu peserta didik mengembangkan kesadaran sosial dan empati terhadap orang lain yang memiliki latar belakang atau pengalaman yang berbeda. Ini adalah aspek penting dalam pembelajaran sosial emosional, yang mendorong mereka untuk memahami perbedaan dan berinteraksi dengan penuh empati.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Soal 6: Menciptakan Atmosfer Keberagaman dalam Pembelajaran<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertanyaan:<\/strong> Seorang guru berkomitmen untuk menciptakan atmosfer yang mendukung keberagaman dan melibatkan setiap peserta didik dalam pembelajaran. Dari pilihan di bawah ini, pilihlah pernyataan yang paling efektif.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>a) Memberikan salam umum kepada seluruh kelas.<\/li>\n\n\n\n<li>b) Mengidentifikasi keberagaman hanya dalam pengumuman kelas.<\/li>\n\n\n\n<li>c) Memulai dengan cerita inspiratif yang terkait dengan keberagaman dan memberikan ruang untuk berbagi pengalaman peserta didik.<\/li>\n\n\n\n<li>d) Menyebutkan sejumlah fakta keberagaman di dunia.<\/li>\n\n\n\n<li>e) Menghindari topik keberagaman untuk menghindari ketidaknyamanan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jawaban:<\/strong> c) Memulai dengan cerita inspiratif yang terkait dengan keberagaman dan memberikan ruang untuk berbagi pengalaman peserta didik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penjelasan:<\/strong> Untuk menciptakan atmosfer yang mendukung keberagaman, penting bagi guru untuk memulai pembelajaran dengan cerita inspiratif yang relevan dengan tema keberagaman dan memberikan ruang bagi peserta didik untuk berbagi pengalaman mereka. Ini mendorong dialog terbuka, memperkaya pemahaman siswa tentang keberagaman, dan menciptakan rasa saling menghargai di dalam kelas.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Soal 7: Strategi POOCH dalam Pengambilan Keputusan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertanyaan:<\/strong> Suatu sekolah memutuskan untuk menerapkan strategi pengambilan keputusan yang dikenal dengan singkatan POOCH (Problem, Options, Outcomes, Choice, How). Strategi ini diintegrasikan dalam pembelajaran sosial emosional untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam membuat keputusan yang bertanggung jawab. Berikut adalah pernyataan yang benar terkait pengembangan kemampuan tersebut:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>a) Penggunaan strategi POOCH tidak relevan dengan pembelajaran sosial emosional.<\/li>\n\n\n\n<li>b) Pengambilan keputusan yang beralasan hanya melibatkan analisis fakta tanpa mempertimbangkan dampak sosial.<\/li>\n\n\n\n<li>c) Keterampilan berpikir kritis tidak berkontribusi pada pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.<\/li>\n\n\n\n<li>d) Penggunaan strategi POOCH membantu peserta didik membuat keputusan beralasan setelah menganalisis informasi.<\/li>\n\n\n\n<li>e) Memahami konsekuensi tindakan tidak diperlukan dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jawaban:<\/strong> d) Penggunaan strategi POOCH membantu peserta didik membuat keputusan beralasan setelah menganalisis informasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penjelasan:<\/strong> Strategi POOCH membantu peserta didik mengidentifikasi masalah, mempertimbangkan berbagai pilihan, menganalisis hasil yang mungkin terjadi, membuat pilihan yang tepat, dan mengetahui cara melaksanakan pilihan tersebut. Strategi ini melibatkan berpikir kritis dan mempertimbangkan dampak sosial dari keputusan yang diambil, yang merupakan bagian dari pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dalam konteks pembelajaran sosial emosional.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Soal 8: Mengelola Emosi dengan Teknik &#8220;Menghitung Sampai 10&#8221;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertanyaan:<\/strong> Di sekolah, Adam seringkali merasa stres karena tekanan tugas-tugas akademis yang menumpuk. Salah seorang guru memberikan saran kepada Adam untuk mencoba teknik &#8220;Menghitung sampai 10&#8221; ketika merasa tertekan. Adam mencoba teknik tersebut dan menyadari bahwa itu membantunya untuk lebih tenang dan fokus. Berdasarkan contoh ini, manajemen diri dan motivasi apa yang sedang Adam kembangkan?<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>a) Merancang tujuan belajar secara konsisten<\/li>\n\n\n\n<li>b) Mempertimbangkan pandangan orang lain melalui Think-Pair-Share<\/li>\n\n\n\n<li>c) Melibatkan diri dalam permainan kelompok<\/li>\n\n\n\n<li>d) Mengidentifikasi kekuatan dan budaya diri melalui aktivitas refleksi<\/li>\n\n\n\n<li>e) Mengelola emosi diri melalui teknik menghitung sampai 10<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jawaban:<\/strong> e) Mengelola emosi diri melalui teknik menghitung sampai 10<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penjelasan:<\/strong> Teknik &#8220;Menghitung sampai<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">10&#8243; adalah metode untuk membantu individu mengelola emosi dan mengurangi stres. Dalam hal ini, Adam menggunakan teknik ini untuk menenangkan diri saat merasa tertekan, yang merupakan bentuk manajemen diri. Kemampuan untuk mengatur emosi sangat penting dalam pengembangan sosial emosional, baik untuk kesejahteraan pribadi maupun interaksi sosial.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Soal 9: Kerangka 3 Signature Practices dalam Pembelajaran<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertanyaan:<\/strong> Seorang guru harus mampu merancang pembelajaran dengan menggunakan kerangka 3 signature practices yaitu pembukaan yang hangat dan inklusif, kegiatan yang menantang serta melibatkan peserta didik, dan penutupan yang optimis, dengan alasan&#8230;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>a) Pembukaan yang hangat perlu untuk membangun keterhubungan komunitas dan terkoneksi dengan pembelajaran yang akan dilakukan.<\/li>\n\n\n\n<li>b) Pembukaan yang hangat perlu untuk membangun keterhubungan komunitas dan terkoneksi dengan pembelajaran yang telah dilakukan.<\/li>\n\n\n\n<li>c) Kegiatan pembelajaran yang menantang dan melibatkan perlu untuk membangun keseimbangan antara pengalaman interaktif dan reflektif, untuk memenuhi kebutuhan guru.<\/li>\n\n\n\n<li>d) Penutupan yang optimistik perlu untuk menyoroti pemahaman guru dan tentang pentingnya apa yang telah dipelajari, sehingga dapat memberikan rasa pencapaian dan mendukung pemikiran ke depan.<\/li>\n\n\n\n<li>e) a, b, dan c benar, karena kerangka 3 signature practices merupakan strategi yang perlu diterapkan untuk pembelajaran orang dewasa.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jawaban:<\/strong> a) Pembukaan yang hangat perlu untuk membangun keterhubungan komunitas dan terkoneksi dengan pembelajaran yang akan dilakukan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penjelasan:<\/strong> Kerangka 3 signature practices bertujuan untuk membangun atmosfer yang inklusif dan optimis dalam pembelajaran. Pembukaan yang hangat menciptakan rasa keterhubungan yang mendalam antara guru dan peserta didik, yang membantu memfasilitasi pembelajaran yang lebih baik. Dengan menciptakan atmosfer yang positif di awal, peserta didik merasa lebih siap untuk terlibat dalam pembelajaran.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Soal 10: Mengelola Situasi dengan Penutupan yang Optimis<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pertanyaan:<\/strong> Guru ingin mengakhiri sesi pembelajaran dengan Penutupan yang Optimis sesuai dengan kerangka 3 signature practices. Sebelum penutupan, guru merencanakan sebuah refleksi bersama tentang pembelajaran hari itu. Namun, beberapa peserta didik terlihat masih belum sepenuhnya memahami konsep yang diajarkan. Sebaliknya, beberapa peserta didik lainnya tampak antusias dan siap untuk belajar lebih lanjut. Bagaimana guru dapat mengelola situasi ini dengan menciptakan penutupan yang tetap optimis sambil memastikan bahwa setiap peserta didik merasa diakui dan didukung?<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>a) Memberikan apresiasi umum untuk partisipasi seluruh kelas dan mengabaikan perbedaan pemahaman individu.<\/li>\n\n\n\n<li>b) Mengajukan pertanyaan terbuka kepada seluruh kelas untuk memotivasi peserta didik yang masih membutuhkan pemahaman tambahan.<\/li>\n\n\n\n<li>c) Mengajak peserta didik yang telah memahami konsep untuk berbagi pemahaman mereka, sementara memberikan waktu tambahan untuk peserta didik yang masih kesulitan.<\/li>\n\n\n\n<li>d) Mengalihkan perhatian dari pemahaman individu ke rencana pembelajaran mendatang agar suasana tetap positif.<\/li>\n\n\n\n<li>e) Menyimpan refleksi bersama untuk sesi pembelajaran berikutnya ketika semua peserta didik diharapkan dapat memahami konsep secara menyeluruh.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jawaban:<\/strong> c) Mengajak peserta didik yang telah memahami konsep untuk berbagi pemahaman mereka, sementara memberikan waktu tambahan untuk peserta didik yang masih kesulitan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penjelasan:<\/strong> Dalam situasi ini, guru dapat menciptakan suasana penutupan yang optimis dengan memfasilitasi pembagian pemahaman dari siswa yang telah menguasai konsep, sembari memberikan waktu tambahan untuk peserta didik yang kesulitan. Dengan cara ini, seluruh kelas merasa dihargai, dan mereka yang membutuhkan dukungan dapat memperoleh bantuan tanpa merasa tertinggal.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kesimpulan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembelajaran sosial emosional tidak hanya membantu peserta didik dalam hal akademik, tetapi juga dalam kehidupan sosial mereka. Melalui teknik-teknik dan strategi yang tepat, seperti yang dibahas dalam soal latihan pemahaman modul ini, guru dapat memainkan peran penting dalam membantu peserta didik mengembangkan keterampilan sosial emosional mereka. Dengan demikian, mereka dapat menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola emosi, berempati terhadap orang lain, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam pendidikan, salah satu aspek yang semakin mendapat perhatian besar adalah pengembangan kompetensi sosial emosional (KSE) pada peserta didik. Modul 2, Topik 2 dalam Program Pendidikan Guru (PPG) menyajikan materi yang penting mengenai Pembelajaran Sosial Emosional dan penerapannya dalam proses belajar-mengajar. Pembelajaran sosial emosional tidak hanya membantu peserta didik dalam aspek akademik, tetapi juga dalam &#8230; <a title=\"Latihan Pemahaman Modul 2 Topik 2: Pembelajaran Sosial Emosional &#8211; Apa dan Bagaimana Menerapkannya\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/latihan-pemahaman-modul-2-topik-2-pembelajaran-sosial-emosional-apa-dan-bagaimana-menerapkannya\/\" aria-label=\"Baca selengkapnya tentang Latihan Pemahaman Modul 2 Topik 2: Pembelajaran Sosial Emosional &#8211; Apa dan Bagaimana Menerapkannya\">Baca Selengkapnya<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":74885,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[46],"tags":[300],"class_list":["post-35023","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-latihan-pemahaman-modul-2-topik-2-pembelajaran-sosial-emosional-apa-dan-bagaimana-menerapkannya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35023","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35023"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35023\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/74885"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35023"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35023"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35023"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}