{"id":40624,"date":"2025-05-03T09:51:03","date_gmt":"2025-05-03T02:51:03","guid":{"rendered":"https:\/\/www.domainjava.com\/blog\/artikel\/?p=40624"},"modified":"2025-05-03T09:51:03","modified_gmt":"2025-05-03T02:51:03","slug":"karsil-adalah-masyarakat-miskin-yang-biasa-memenuhi-kebutuhan-perut-dengan-mencari-bahan-makanan-di-hutan-karsil-memiliki-gubug-disebelah-kebun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/karsil-adalah-masyarakat-miskin-yang-biasa-memenuhi-kebutuhan-perut-dengan-mencari-bahan-makanan-di-hutan-karsil-memiliki-gubug-disebelah-kebun\/","title":{"rendered":"KARSIL Adalah Masyarakat Miskin Yang Biasa Memenuhi Kebutuhan Perut Dengan Mencari Bahan Makanan Di Hutan, Karsil Memiliki Gubug Disebelah Kebun"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><strong><strong>Dikutip DomainJava.com Soal Lengkap:<\/strong><\/strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Si Karsil Anak Nakal, Suka Mencuri Ketimun<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karsil adalah masyarakat miskin yang biasa memenuhi kebutuhan perut dengan mencari bahan makanan di hutan. Karsil memiliki gubug disebelah kebun PT. Great Giant Cucumber (GGC).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena perkebunan GGC sangat luas, kadang ada buah timun dekat rumah Karsil tidak ikut terpanen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Biasanya, Karsil mengambil timun yang tidak terpanen tersebut dengan anggapan sangat disayangkan sekali jika timun-timun tersebut tidak dikonsumsi dan tidak pernah menimbulkan masalah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Bagaimana peristiwa tersebut jika dikaitkan dengan fungsi hukum \u201claw as a tool of social engineering\u201d?<\/li>\n\n\n\n<li>Bagaimana peristiwa tersebut jika dikaitkan dengan adagium \u201cUbi societas ibi ius\u201d yang populer oleh filsuf Bernama cicero?<\/li>\n\n\n\n<li>Bagaimana peristiwa tersebut jika dikaitkan dengan 3 nilai dasar tujuan hukum \u201cThe Rule of Law\u201d yaitu keadilan (gerechtigheit), kemanfaatan (zweckmaerten), dan kepastian hukum (rechtssicherkeit)?<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><strong>Jawabannya yang tepat sebagai berikut:<\/strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut adalah&nbsp;<strong>analisis lengkap<\/strong>&nbsp;terhadap kasus Karsil yang dikaitkan dengan tiga konsep penting dalam hukum:&nbsp;<strong>fungsi hukum sebagai alat rekayasa sosial<\/strong>,&nbsp;<strong>adagium &#8220;Ubi societas ibi ius&#8221;<\/strong>, dan&nbsp;<strong>tiga nilai dasar tujuan hukum<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>1. Fungsi Hukum sebagai \u201cLaw as a Tool of Social Engineering\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Konsep ini diperkenalkan oleh&nbsp;<strong>Roscoe Pound<\/strong>, yang menyatakan bahwa hukum bukan sekadar norma yang bersifat statis, melainkan merupakan&nbsp;<strong>alat untuk membentuk dan merekayasa masyarakat (social engineering)<\/strong>. Artinya, hukum dapat digunakan untuk&nbsp;<strong>mengubah struktur sosial, memperbaiki ketimpangan, dan menyesuaikan perilaku masyarakat terhadap nilai-nilai ideal<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Analisis Kasus Karsil:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perilaku Karsil yang mengambil timun tanpa izin secara teknis bisa dikategorikan sebagai pencurian menurut hukum pidana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, tindakan tersebut dilatarbelakangi oleh\u00a0<strong>kemiskinan dan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup<\/strong>, serta kondisi bahwa timun tersebut seringkali dibiarkan begitu saja dan tidak diambil oleh pemiliknya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika hukum hanya diterapkan secara kaku (represif), maka akan ada ketimpangan sosial. Oleh karena itu, hukum seharusnya menjadi alat untuk\u00a0<strong>merekayasa sistem sosial agar lebih adil dan manusiawi<\/strong>, misalnya dengan mendorong perusahaan GGC membuat program CSR (Corporate Social Responsibility) yang menyediakan bahan pangan layak bagi masyarakat sekitar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam konteks ini, hukum bisa diarahkan untuk menciptakan\u00a0<strong>keseimbangan antara perlindungan hak milik perusahaan dan perlindungan terhadap hak hidup masyarakat miskin seperti Karsil.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kesimpulan:<\/strong>&nbsp;Kasus Karsil menunjukkan bahwa hukum tidak seharusnya hanya menghukum, tetapi juga bisa diarahkan untuk menciptakan perubahan sosial ke arah yang lebih adil.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2. Adagium \u201cUbi Societas Ibi Ius\u201d (Di mana ada masyarakat, di situ ada hukum)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adagium ini berasal dari&nbsp;<strong>Cicero<\/strong>, seorang filsuf Romawi, yang menyatakan bahwa&nbsp;<strong>hukum akan selalu muncul di manapun ada kehidupan masyarakat<\/strong>. Artinya,&nbsp;<strong>keberadaan hukum adalah keniscayaan dalam kehidupan sosial<\/strong>. Tanpa hukum, tidak ada aturan yang mengatur interaksi manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Analisis Kasus Karsil:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun tindakan Karsil dianggap kecil dan bahkan dianggap &#8220;wajar&#8221; oleh warga sekitar, tetap ada norma hukum yang mengaturnya, yaitu hukum pidana tentang pencurian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adanya konflik antara kebutuhan hidup dan hak milik mencerminkan bahwa dalam masyarakat\u00a0<strong>akan selalu ada ketegangan antara kepentingan individu dan kepentingan bersama<\/strong>, dan hukum hadir untuk menengahi atau mengatur itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peristiwa ini menunjukkan bahwa\u00a0<strong>hukum tetap berlaku<\/strong>, bahkan dalam kondisi informal atau tradisional. Hukum tidak hanya berlaku di pengadilan, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kasus \u201cpengambilan timun yang dibiarkan\u201d.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kesimpulan:<\/strong>&nbsp;Kasus Karsil membuktikan adagium Cicero \u2014 bahwa di mana ada interaksi sosial (dalam hal ini, antara masyarakat dan perusahaan), hukum harus hadir untuk mengatur dan melindungi semua pihak secara proporsional.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3. Nilai Dasar Tujuan Hukum dalam The Rule of Law: Keadilan, Kemanfaatan, dan Kepastian Hukum<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam teori hukum, dikenal tiga nilai dasar yang menjadi&nbsp;<strong>tujuan utama dari hukum<\/strong>, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Keadilan (Gerechtigkeit):<\/strong>\u00a0Hukum harus memberikan perlakuan yang adil dan seimbang bagi semua pihak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kemanfaatan (Zweckm\u00e4\u00dfigkeit):<\/strong>\u00a0Hukum harus memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat, terutama dalam menciptakan ketertiban dan kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kepastian Hukum (Rechtssicherheit):<\/strong>\u00a0Hukum harus ditegakkan dengan cara yang konsisten dan dapat diprediksi, sehingga masyarakat memiliki rasa aman terhadap hak dan kewajibannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Analisis Kasus Karsil:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Keadilan:<\/strong>\u00a0Jika Karsil dipenjara karena mencuri timun yang tidak dipanen dan terbuang, maka timbul pertanyaan: adilkah menghukum orang miskin yang sekadar berusaha untuk hidup? Keadilan substantif mungkin mengharuskan pertimbangan keadaan ekonomi Karsil dan motif tindakannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kemanfaatan:<\/strong>\u00a0Apakah menghukum Karsil membawa manfaat? Ataukah lebih bermanfaat jika perusahaan menyusun program bantuan sosial atau kerja sama dengan masyarakat sekitar? Dari sisi efisiensi sosial, membantu lebih bermanfaat dibanding menghukum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kepastian hukum:<\/strong>\u00a0Dari sudut pandang formal, aturan hukum harus tetap ditegakkan. Jika tindakan seperti ini dibiarkan terus-menerus tanpa pengaturan, akan muncul pelanggaran hak milik dan ketertiban hukum terganggu. Maka, perlu ada aturan jelas tentang bagaimana perusahaan menangani hasil panen yang tersisa atau tidak diambil.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kesimpulan:<\/strong>&nbsp;Ketiga nilai ini perlu dipertimbangkan secara&nbsp;<strong>seimbang<\/strong>. Tidak cukup hanya fokus pada kepastian hukum (menegakkan hukum pidana), tapi juga harus memperhatikan nilai keadilan dan kemanfaatan bagi masyarakat miskin.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kesimpulan Umum:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kasus Karsil bukan hanya <a class=\"wpil_keyword_link\" href=\"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/tag\/soal\/\" target=\"_blank\"  rel=\"noopener\" title=\"Soal\" data-wpil-keyword-link=\"linked\"  data-wpil-monitor-id=\"2809\">soal<\/a> hukum pidana, tapi juga menyangkut&nbsp;<strong>nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan filosofi hukum itu sendiri<\/strong>. Dengan meninjau dari perspektif:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>\u201cLaw as a tool of social engineering,\u201d<\/strong>\u00a0hukum seharusnya menjadi sarana mengatasi kemiskinan dan menciptakan sistem sosial yang lebih adil, bukan sekadar menghukum.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>\u201cUbi societas ibi ius,\u201d<\/strong>\u00a0menunjukkan bahwa interaksi antara warga miskin dan perusahaan tetap berada dalam lingkup hukum, dan tidak bisa diabaikan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>\u201cThe Rule of Law\u201d dengan tiga nilai dasarnya<\/strong>\u00a0menuntut adanya keseimbangan antara penegakan aturan dengan rasa keadilan dan kemanfaatan bagi semua pihak, termasuk masyarakat kecil.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dikutip DomainJava.com Soal Lengkap: Si Karsil Anak Nakal, Suka Mencuri Ketimun Karsil adalah masyarakat miskin yang biasa memenuhi kebutuhan perut dengan mencari bahan makanan di hutan. Karsil memiliki gubug disebelah kebun PT. Great Giant Cucumber (GGC). Karena perkebunan GGC sangat luas, kadang ada buah timun dekat rumah Karsil tidak ikut terpanen. Biasanya, Karsil mengambil timun &#8230; <a title=\"KARSIL Adalah Masyarakat Miskin Yang Biasa Memenuhi Kebutuhan Perut Dengan Mencari Bahan Makanan Di Hutan, Karsil Memiliki Gubug Disebelah Kebun\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/karsil-adalah-masyarakat-miskin-yang-biasa-memenuhi-kebutuhan-perut-dengan-mencari-bahan-makanan-di-hutan-karsil-memiliki-gubug-disebelah-kebun\/\" aria-label=\"Baca selengkapnya tentang KARSIL Adalah Masyarakat Miskin Yang Biasa Memenuhi Kebutuhan Perut Dengan Mencari Bahan Makanan Di Hutan, Karsil Memiliki Gubug Disebelah Kebun\">Baca Selengkapnya<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":74885,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-40624","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wawasan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40624","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40624"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40624\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/74885"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40624"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40624"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.domainjava.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40624"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}