Tarhib Ramadhan adalah istilah yang mungkin masih terdengar asing bagi sebagian umat Muslim. Meski demikian, tidak sedikit pula yang sudah memahami makna dan praktiknya. Secara bahasa, istilah ini berasal dari bahasa Arab dan memiliki makna yang dalam terkait penyambutan bulan suci.
Secara etimologis, kata tarhib berasal dari akar kata Arab ra-hi-ba yang berarti luas, lapang, dan terbuka. Bentuk turunannya, rahhaba–yurahhibu–tarhiban, mengandung arti menyambut atau menerima dengan penuh kelapangan hati. Karena itu, tarhib Ramadhan dapat dimaknai sebagai upaya menyambut bulan suci Ramadhan dengan hati yang terbuka, penuh kegembiraan, dan kesiapan diri.
Ramadhan sendiri merupakan bulan istimewa yang hanya datang satu kali dalam setahun. Di dalamnya, umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Oleh sebab itu, menyambut Ramadhan tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan persiapan lahir dan batin yang matang. Inilah esensi dari tarhib Ramadhan.
Secara umum, tarhib Ramadhan adalah bentuk penyambutan bulan suci dengan segala kesiapan, baik fisik maupun mental. Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu serta memperbanyak amal ibadah. Maka dari itu, dibutuhkan kondisi kesehatan yang baik serta kesiapan spiritual agar ibadah dapat dijalankan secara optimal.
Mengutip jurnal yang dipublikasikan dalam Jurnal Inovasi Pendidikan MH Thamrin Vol. 8 (2) September 2024, tradisi tarhib telah menjadi bagian dari praktik keagamaan menjelang Ramadhan di berbagai komunitas Muslim. Sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dan komunitas dakwah rutin mengadakan kegiatan tarhib berupa kajian, tabligh akbar, hingga doa bersama sebagai bentuk persiapan kolektif menyambut Ramadhan.
1. Arti Tarhib Ramadhan dan Asal Usulnya
Secara bahasa, tarhib berarti menyambut dengan kelapangan hati. Kata ini tidak khusus diperuntukkan bagi Ramadhan saja. Menurut Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag), istilah tarhib dalam bahasa Arab digunakan untuk berbagai bentuk sambutan, seperti sambutan kepada tamu, pemimpin, atau dalam acara resmi.
Dengan demikian, tarhib memiliki makna umum sebagai ungkapan penghormatan atas kedatangan sesuatu yang dimuliakan. Dalam konteks Ramadhan, maknanya serupa dengan ungkapan “Marhaban ya Ramadhan” (مرحبًا يا رمضان) yang berarti menyambut dengan penuh kelapangan hati dan kebahagiaan.
Dapat disimpulkan bahwa tarhib Ramadhan adalah menyambut bulan suci dengan rasa syukur, kebahagiaan, serta kesiapan jiwa dan raga. Bukan hanya perayaan simbolik, tetapi juga bentuk kesadaran bahwa Ramadhan adalah momentum besar untuk memperbaiki kualitas ibadah.
Dalam buku Informasi Kapuas (2021) karya Jum’atil Fajar, dijelaskan bahwa tarhib Ramadhan merupakan upaya meningkatkan kualitas ibadah sebelum dan selama bulan Ramadhan. Sementara itu, dalam buku Berpuasa Bukan Bersandiwara (2014) karya Owen Putra, kedatangan Ramadhan dianalogikan sebagai tamu istimewa yang selalu dirindukan. Tamu tersebut tentu disambut dengan kegembiraan dan persiapan terbaik.
2. Istilah Tarhib Ramadhan di Indonesia
Di Indonesia, istilah tarhib Ramadhan lebih sering diwujudkan dalam bentuk kegiatan keagamaan seperti kajian fiqih puasa, halaqah Ramadhan, ceramah umum, hingga pawai menyambut bulan suci. Meskipun istilahnya tergolong populer dalam beberapa tahun terakhir, praktik penyambutan Ramadhan sebenarnya telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Muslim Indonesia.
Mengutip laman Kemenag Kanwil Malang, tarhib Ramadhan di Indonesia sering diisi dengan kegiatan edukatif untuk memperdalam pemahaman tentang puasa. Hal ini menunjukkan bahwa tarhib tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga edukatif dan spiritual.
Selain kegiatan formal, masyarakat Indonesia juga memiliki tradisi lokal yang berkaitan dengan penyambutan Ramadhan. Di Jawa misalnya, terdapat tradisi Megengan, yaitu kegiatan ziarah kubur dan makan bersama sebagai bentuk doa dan persiapan spiritual.
Sementara dalam masyarakat Sunda dikenal istilah Munggahan, yang berarti naik menuju bulan suci atau meningkatkan derajat. Secara filosofis, munggahan dimaknai sebagai proses penyucian diri agar lebih siap menjalani ibadah puasa.
Menurut Syam (2017) dalam Jurnal Psikologi Islam dan Budaya Vol. 2 No. 2 (2019), tradisi menyambut Ramadhan di Indonesia menunjukkan bahwa bulan ini tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga sosial dan budaya. Kehadirannya begitu kuat memengaruhi pola kehidupan masyarakat Muslim.
3. Contoh Amalan Tarhib Ramadhan
Berikut beberapa amalan yang dapat dilakukan sebagai bentuk tarhib Ramadhan:
a. Membaca Doa Menyambut Ramadhan
Salah satu doa yang masyhur adalah riwayat Imam Ahmad:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”
Ada pula doa yang dinukil dari Yahya bin Abi Katsir dan disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif Al-Ma’arif:
اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا
Artinya:
“Ya Allah, sampaikan aku hingga Ramadhan, sampaikan Ramadhan untukku, dan terimalah amalanku di dalamnya.”
b. Membaca Doa Ketika Melihat Hilal
Doa ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ، وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ هِلَالُ رُشْدٍ وَخَيْرٍ
Artinya:
“Ya Allah, jadikan bulan ini membawa keamanan, keimanan, keselamatan dan Islam bagi kami.”
c. Meneguhkan Niat Sebelum Ramadhan
Beberapa niat yang bisa dipersiapkan sebelum memasuki Ramadhan antara lain:
- Niat memperbanyak tadarus Al-Qur’an
- Niat taubat sungguh-sungguh
- Niat memperbaiki akhlak
- Niat menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan hidup
d. Mempersiapkan Kesehatan Fisik dan Psikis
Persiapan fisik sangat penting agar puasa berjalan optimal. Penelitian dalam Serambi Tarbawi: Jurnal Studi Pemikiran, Riset dan Pengembangan Pendidikan Islam (Vol. 3 No. 1, 2015) menyebutkan bahwa puasa memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat dan memperbaiki diri.
Saat tidak berpuasa, sistem pencernaan terus bekerja mencerna makanan. Sedangkan saat berpuasa, organ pencernaan beristirahat sehingga membantu proses regenerasi sel tubuh.
Karena itu, menjaga pola makan dan kesehatan sebelum Ramadhan sangat dianjurkan.
e. Membaca Kitab dan Referensi Ilmiah
Menambah wawasan tentang Ramadhan juga bagian dari tarhib. Beberapa kitab yang dapat dibaca antara lain:
- Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali
- Lathaif Al-Ma’arif
Dengan ilmu yang cukup, ibadah puasa akan lebih berkualitas dan sesuai tuntunan syariat.
f. Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Aisyah RA menyebutkan bahwa Rasulullah SAW paling banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban dibanding bulan lainnya selain Ramadhan.
Namun, dilarang berpuasa satu atau dua hari menjelang Ramadhan kecuali bagi yang sudah terbiasa.
Kesimpulan
Tarhib Ramadhan adalah proses menyambut bulan suci dengan penuh kelapangan hati, kesiapan spiritual, kesiapan fisik, serta perencanaan ibadah yang matang.
Ia bukan sekadar tradisi, tetapi bentuk kesadaran bahwa Ramadhan adalah momentum istimewa yang belum tentu kita temui kembali di tahun berikutnya.
Dengan doa, ilmu, niat yang lurus, serta persiapan kesehatan, umat Muslim dapat menjalani Ramadhan dengan lebih khusyuk dan bermakna.
Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan sehat dan iman yang terus bertambah.
Sumber: https://www.liputan6.com/hot/read/5258030/arti-tarhib-ramadhan-dalam-islam-lengkap-dengan-asal-usul-dan-contoh-amalannya
Seluruh konten dan artikel yang dipublikasikan di DomainJava.com disediakan semata-mata untuk tujuan informasi dan edukasi. Kami berupaya menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat, namun tidak dimaksudkan untuk melanggar hukum, kebijakan, maupun pedoman dari pihak mana pun. Segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat dalam artikel Pengertian Tarhib Ramadhan dan Contoh Amalan Lengkap Menyambut Bulan Puasa sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.












