Peribahasa merupakan salah satu bentuk kekayaan bahasa Indonesia yang masih sering digunakan hingga sekarang. Ungkapan-ungkapan ini biasanya mengandung makna mendalam dan nasihat kehidupan yang disampaikan secara singkat, padat, dan mudah diingat. Salah satu peribahasa yang cukup populer adalah “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.”
Sekilas, peribahasa ini terdengar seperti gambaran aktivitas mendayung perahu. Namun, di balik kata-katanya yang sederhana, tersimpan pesan yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Peribahasa ini kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mampu mencapai lebih dari satu tujuan dalam satu usaha.
Dalam berbagai situasi, baik di dunia kerja, pendidikan, maupun kehidupan sosial, peribahasa ini sering dijadikan motivasi agar seseorang bisa berpikir lebih efektif dan efisien. Tidak heran jika ungkapan ini masih sering dipakai dalam percakapan, tulisan, bahkan materi pembelajaran.
Untuk memahami maknanya secara lebih mendalam, penting bagi kita mengetahui arti peribahasa sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, beserta contoh penggunaannya dalam kalimat. Dengan begitu, peribahasa ini tidak hanya menjadi ungkapan lama, tetapi juga tetap relevan dan bermanfaat di masa kini.
Arti Peribahasa Sekali Merengkuh Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui
Peribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui merupakan salah satu ungkapan klasik dalam bahasa Indonesia yang hingga kini masih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Peribahasa ini memiliki makna yang serupa dengan ungkapan sambil menyelam minum air, yaitu melakukan satu tindakan yang mampu menghasilkan beberapa keuntungan sekaligus. Keberadaan peribahasa ini menunjukkan kekayaan bahasa Indonesia dalam menggambarkan fenomena kehidupan secara singkat, padat, dan penuh makna.
Peribahasa sendiri merupakan bagian dari sastra rakyat yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sejak dahulu, peribahasa digunakan sebagai sarana menyampaikan nasihat, nilai moral, sindiran, maupun pandangan hidup masyarakat. Bentuknya yang ringkas namun sarat makna menjadikan peribahasa mudah diingat dan relevan digunakan dalam berbagai situasi. Oleh karena itu, meskipun zaman terus berkembang, peribahasa tetap hidup dan digunakan dalam komunikasi modern.
Menurut Agus Sri Danardana dalam buku Dinamika Identitas dalam Bahasa dan Sastra (2022), peribahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan identitas dan karakter suatu kelompok masyarakat. Di dalam peribahasa terkandung nilai-nilai, prinsip hidup, serta cara pandang masyarakat terhadap dunia. Hal ini menunjukkan bahwa peribahasa bukan sekadar ungkapan bahasa, melainkan juga representasi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Peribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mampu menyelesaikan dua hingga tiga pekerjaan dalam satu waktu atau melalui satu usaha. Secara harfiah, peribahasa ini menggambarkan seseorang yang mengayuh dayung sekali, tetapi mampu mencapai lebih dari satu pulau. Gambaran tersebut melambangkan efisiensi, kecerdikan, dan kemampuan memanfaatkan kesempatan dengan baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, peribahasa ini sering diselipkan dalam percakapan, diskusi, maupun tulisan untuk menjelaskan konsep multitasking. Misalnya, seseorang yang bekerja sambil menempuh pendidikan atau menjalankan dua proyek sekaligus sering disebut sebagai contoh dari peribahasa ini. Tidak jarang, ungkapan tersebut digunakan untuk memberi pujian atas kemampuan seseorang dalam mengatur waktu dan tenaga secara efektif.
Secara umum, arti peribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui adalah mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu waktu untuk mencapai lebih dari satu tujuan. Konsep ini kerap dianggap sebagai strategi yang efektif untuk menghemat waktu dan meningkatkan produktivitas. Dalam dunia kerja modern yang menuntut kecepatan dan efisiensi, multitasking sering kali dipandang sebagai keterampilan yang bernilai tinggi.
Namun demikian, pandangan positif terhadap multitasking tidak selalu sejalan dengan fakta ilmiah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mengerjakan banyak tugas secara bersamaan dapat memberikan dampak negatif, terutama terhadap fokus dan kinerja otak. Dikutip dari laman Lifespan, melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu yang sama justru membuat perhatian seseorang terbagi. Akibatnya, risiko melakukan kesalahan menjadi lebih tinggi dibandingkan ketika mengerjakan satu tugas secara fokus.
Selain menurunkan kualitas hasil kerja, multitasking juga dapat memengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang. Kebiasaan ini diketahui dapat meningkatkan detak jantung dan memicu stres. Meskipun efek tersebut bersifat sementara, jika multitasking dilakukan secara terus-menerus tanpa pengelolaan yang baik, bukan tidak mungkin dapat memicu gangguan kesehatan yang lebih serius, baik secara fisik maupun psikologis.
Oleh sebab itu, banyak ahli produktivitas menyarankan pendekatan yang lebih bijak dalam menyelesaikan pekerjaan. Coach Produktivitas di Radiant Organizing, Sara Caputo, menekankan pentingnya pengaturan prioritas sebagai kunci utama meningkatkan produktivitas. Alih-alih mengerjakan dua hingga tiga tugas sekaligus, seseorang disarankan untuk menyusun daftar pekerjaan berdasarkan tingkat kepentingannya.
Skala prioritas tersebut dapat dimulai dari tugas yang sangat penting dan mendesak, kemudian diikuti oleh tugas yang penting tetapi tidak mendesak, hingga tugas yang bersifat sepele. Dengan cara ini, pekerjaan dapat diselesaikan secara lebih terstruktur, fokus, dan efisien tanpa harus mengorbankan kesehatan mental maupun kualitas hasil kerja.
Meskipun demikian, peribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui tetap relevan sebagai gambaran kecerdikan dalam memanfaatkan kesempatan. Peribahasa ini mengajarkan nilai keefektifan dan kemampuan melihat peluang dalam satu tindakan. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan konteks dan kemampuan masing-masing individu agar tidak berujung pada kelelahan atau stres berlebihan.
Selain peribahasa tersebut, bahasa Indonesia juga memiliki banyak ungkapan lain yang mengandung makna serupa. Peribahasa-peribahasa ini sama-sama menggambarkan tindakan melakukan satu usaha untuk memperoleh lebih dari satu hasil. Berdasarkan Kamus Peribahasa karya S.B.S. Abbas dan Kamus Peribahasa Indonesia oleh Ready Susanto, terdapat beberapa peribahasa yang sering digunakan dalam konteks tersebut.
Peribahasa sambil menyelam minum air misalnya, menggambarkan seseorang yang melakukan satu pekerjaan tetapi sekaligus mencapai tujuan lain. Ungkapan ini sangat populer dan sering digunakan dalam berbagai situasi. Selanjutnya, peribahasa sekali tepuk dua lalat memiliki makna mendapatkan banyak hasil dari satu usaha yang dilakukan.
Ada pula peribahasa sekali membuka pura, dua tiga utang terbayar yang menggambarkan tindakan tunggal yang memberikan banyak keuntungan sekaligus. Peribahasa sambil menyeruduk galas lalu mengandung makna bahwa seseorang dapat bersenang-senang tanpa melupakan tujuan atau keuntungan yang ingin dicapai. Sementara itu, peribahasa padi masak, jagung mengupih menggambarkan situasi ketika seseorang memperoleh keuntungan berlipat dari satu pekerjaan.
Keseluruhan peribahasa tersebut menunjukkan betapa masyarakat Indonesia sejak dahulu telah memahami pentingnya efisiensi dan kecermatan dalam bertindak. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya bukan semata-mata tentang melakukan banyak hal sekaligus, melainkan tentang kecerdasan dalam mengambil keputusan dan memanfaatkan peluang.
Dengan demikian, peribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui tidak hanya sekadar ungkapan tentang multitasking, tetapi juga cerminan nilai budaya yang mengajarkan strategi, perencanaan, dan kebijaksanaan dalam bertindak. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, pemahaman yang tepat terhadap makna peribahasa ini dapat membantu kita bekerja secara lebih efektif tanpa mengabaikan keseimbangan hidup.
Seluruh konten dan artikel yang dipublikasikan di DomainJava.com disediakan semata-mata untuk tujuan informasi dan edukasi. Kami berupaya menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat, namun tidak dimaksudkan untuk melanggar hukum, kebijakan, maupun pedoman dari pihak mana pun. Segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat dalam artikel Apa Arti Peribahasa Sekali Merengkuh Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui? sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.