Konsep awal nifak membuat pelakunya menjadi kunci agar seluruh pembahasan berikutnya dapat dimengerti dengan jelas dan runtut.
Lanjutkan membaca agar semua bagian yang penting dapat dimengerti dengan baik dan jelas.
Sebagai agama yang selalu menekankan pentingnya keimanan dan ketulusan dalam setiap tindakan, Islam memiliki konsep yang cukup jelas mengenai ‘nifak’, atau hipokrasi. Nifak sendiri dalam ajaran Islam dikenal sebagai salah satu dosa besar yang dapat mengakibatkan orang keluar dari agama Islam. Hal ini dikarenakan nifak mencerminkan tidak adanya keyakinan sepenuhnya terhadap ajaran-ajaran dalam Islam.
Nifak (hipokrasi) dalam Islam bukanlah hal yang dianggap enteng. Seorang munafik dalam konteks ini adalah seseorang yang tampak menerima Islam secara lahiriah, namun dalam hatinya tidak ada keyakinan terhadap kebenaran ajaran Islam. Mereka mungkin berpura-pura beriman, namun dengan diam mereka meragukan atau bahkan menolak ajaran yang diberikan.
Seorang munafik bisa jadi melakukan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan berzakat, namun semua itu dilakukan tanpa ada keimanan dan hanya sebagai bentuk memperlihatkan diri di depan orang lain. Dalam Al-Qur’an sendiri, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)
Ketika seseorang sampai pada titik di mana mereka menunjukkan nifak, ini bisa menjadi tanda bahwa mereka telah keluar dari ajaran Islam. Hal ini disebabkan karena dalam kepercayaan Islam, keimanan bukanlah sekedar pernyataan lisan, tetapi harus muncul dari keyakinan dalam hati dan termanifestasi dalam tindakan.
Banyak ulama menyebut kondisi ini sebagai “nifak akbar” atau hipokrisi besar. Ini dianggap sebagai bentuk kufur (ketidakpercayaan), dan oleh karenanya, membuat pelakunya keluar dari agama Islam.
