Jangan skip bagian akhir karena ada informasi penting yang merangkum pembahasan.
Peredaran Matahari dan pergantian siang menjadi malam dan malam menjadi siang, merupakan fenomena alam yang kita alami setiap harinya. Secara ilmiah, fenomena ini dapat dijelaskan melalui hukum fisika dan Astronomi. Namun, dalam kerangka agama, mengistilahkan fenomena alam ini sebagai “ketetapan Allah”.
Menurut ajaran Islam, segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah hasil dari kuasa dan ketetapan dari Allah SWT. Termasuk di dalamnya adalah peredaran Matahari dan pergantian siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Mengapa demikian?
Ketetapan ini sering kali disebut sebagai “ayat-ayat Allah” dalam Al Qur’an. Jika kita merujuk kepada surah al-Baqarah ayat 164, Allah berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikuasai untuk berjalan di antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.“
Ayat ini menunjukkan bahwa peredaran Matahari dan pergantian di antara siang dan malam adalah bagian dari ayat-ayat Allah. Mereka adalah bukti dari kebesaran-Nya dan kuasa-Nya.
Mereka bukan hanya proses fisik biasa yang terjadi secara alamiah, tetapi juga merupakan pertanda dari penciptaan segala sesuatu oleh Allah dan ketetapan-Nya. Konsep ini memberikan pandangan bahwa tidak ada satu fenomena pun yang terjadi tanpa sebab dan tanpa tujuan. Semuanya telah ditentukan oleh Allah dan memiliki tujuan tertentu.
Dalam konteks ini, peredaran Matahari dan pergantian siang dan malam tidak hanya mengatur ritme kehidupan kita sehari-hari, tetapi juga menjadi tanda akan kebesaran penciptaan Allah. Mereka menjadi bukti akan kuasa Allah dan mengingatkan kita akan keberadaan-Nya.
