

Termometer adalah instrumen yang umum digunakan dalam bidang sains, medis, maupun aktivitas sehari-hari, yang berfungsi untuk mengukur suhu. Sejarah mencatat banyak sekali variasi termometer yang telah diciptakan; dari yang menggunakan alkohol, air, dan bhkan gas. Namun, salah satu jenis cairan yang sering digunakan dalam termometer adalah raksa. Lantas, apa dasarnya penggunaan raksa sebagai bahan utama dalam termometer? Ternyata jawabannya terletak pada asas perubahan.
Raksa adalah salah satu elemen kimia yang memiliki sifat fisik yang unik. Pada suhu ruang, raksa berada dalam keadaan cair dan memiliki daya hantar panas yang baik serta laju pengembangan termal yang cukup tinggi, yang berarti ia bereaksi secara signifikan terhadap perubahan suhu. Sifat-sifat ini menjadi alasan dasar mengapa raksa digunakan dalam termometer.
Asas perubahan merujuk pada bagaimana sebuah bahan bereaksi terhadap perubahan kondisi yang diterimanya. Dalam konteks termometer, asas perubahan merujuk pada bagaimana suatu cairan bereaksi terhadap perubahan suhu. Menariknya, raksa menunjukkan reaksi yang sangat baik terhadap perubahan suhu, yang membuatnya cocok untuk digunakan dalam termometer
Ketika terkena panas, raksa akan mengembang dan naik ke atas tabung kapiler termometer. Sebaliknya, ketika suhunya turun, raksa akan menyusut dan turun. Dengan kata lain, perubahan panjang kolom raksa dalam tabung termometer adalah penunjuk langsung dari perubahan suhu yang terjadi.
Jauh sebelum penggunaan digital dan infrared, raksa adalah pilihan utama untuk termometer karena beberapa alasan:
Namun, penting untuk dipahami bahwa penggunaan raksa harus dengan hati-hati karena sifat berbahayanya bagi manusia dan lingkungan. Termometer raksa kini mulai digantikan dengan termometer digital maupun infrared yang lebih aman dan mudah digunakan.