

Mengelas kedalam fitrah dan perilaku manusia, kita akan menemui dua sifat yang berbanding terbalik: kikir dan dermawan, rakus dan puas. Rasa kikir dan rakus sering sekali malah mendominasi perilaku manusia dan menjadi perintah yang tak tertolak. Namun, pertanyaannya adalah, bagaimana membersihkan jiwa dari sifat-sifat tersebut?
Untuk memahami bagaimana membersihkan jiwa dari sifat kikir dan rakus, kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan kikir dan rakus. Kikir adalah keengganan untuk memberikan apa yang kita milik kepada orang lain, meskipun kita memiliki cukup atau lebih dari cukup. Rakus merupakan pengejaran tak henti-hentinya terhadap harta, status, dan keinginan material dan imaterial lainnya, yang seringkali datang dengan mengorbankan yang lain.
Sifat kikir dan rakus ini sering kali lahir dari ketakutan. Ketakutan kehilangan, ketakutan tidak memiliki cukup, ketakutan tidak bisa bersaing dengan orang lain. Ketakutan inilah yang mendorong seseorang menjadi kikir dan rakus.
Untuk membersihkan jiwa dari sifat kikir dan rakus, kita perlu menghadapi dan mengatasi ketakutan ini.
Jadi, jawabannya apa? Melakukan perombakan internal dan mengubah cara kita memandang diri kita sendiri dan dunia adalah kunci untuk membersihkan jiwa dari sifat kikir dan rakus. Kesadaran, penerimaan, dan upaya aktif untuk mengubah perilaku adalah langkah-langkah penting dalam proses ini.