SEBUAH Perusahaan Manufaktur Mengalami Penurunan Laba Meskipun Volume Penjualannya Meningkat
ABC sebagai sumber informasi: ABC memberikan data rinci mengenai biaya setiap aktivitas, sehingga manajemen mengetahui aktivitas mana yang paling mahal dan paling banyak menyerap sumber daya.
ABM sebagai alat pengelolaan aktivitas: ABM menggunakan data ABC untuk mengidentifikasi aktivitas yang tidak efisien dan menentukan tindakan perbaikan, misalnya menghapus aktivitas yang tidak bernilai tambah, menyederhanakan prosedur, atau meningkatkan kualitas proses.
Dengan kata lain, ABC menjawab pertanyaan “berapa biaya setiap aktivitas?”, sedangkan ABM menjawab pertanyaan “apa yang harus dilakukan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan nilai?”. ABM adalah langkah lanjutan dari ABC yang mengubah data biaya menjadi tindakan strategis manajerial.
3. Contoh Aktivitas Non-Value Added dan Penanganannya dengan ABM
Dalam perusahaan manufaktur, terdapat berbagai aktivitas yang tidak bernilai tambah. Berikut dua contohnya:
Contoh 1: Persediaan Berlebih
Deskripsi: Menyimpan bahan baku atau produk jadi dalam jumlah berlebih dapat menimbulkan biaya penyimpanan tinggi, risiko kerusakan barang, dan penggunaan ruang gudang yang tidak efisien. Aktivitas ini tidak memberikan nilai tambah bagi pelanggan.
Penanganan dengan ABM: ABM menganalisis biaya yang timbul akibat persediaan berlebih menggunakan data ABC. Berdasarkan analisis tersebut, perusahaan dapat menerapkan strategi just-in-time (JIT) untuk menyesuaikan stok dengan kebutuhan produksi secara tepat waktu. Dengan demikian, biaya penyimpanan dapat dikurangi, efisiensi meningkat, dan ruang gudang lebih optimal.
Contoh 2: Pemeriksaan Kualitas Berulang
Deskripsi: Melakukan pemeriksaan kualitas berulang karena kesalahan dalam proses produksi atau prosedur yang belum standar. Aktivitas ini menambah biaya tanpa menambah nilai produk bagi pelanggan.
Penanganan dengan ABM: Dengan informasi biaya dari ABC, perusahaan dapat mengidentifikasi biaya akibat pemeriksaan yang berulang. Tindakan ABM yang dapat dilakukan antara lain:
Standarisasi proses produksi.
Pelatihan tambahan bagi karyawan agar mengurangi kesalahan.
Penggunaan alat inspeksi yang lebih efisien.
Hasilnya, pemeriksaan kualitas yang berulang dapat diminimalkan, biaya produksi menurun, dan kualitas produk tetap terjaga.
Peringatan: Tim penulis tidak bermaksud mengajak pembaca untuk mengakses link download atau cara yang melanggar kebijakan dalam artikel SEBUAH Perusahaan Manufaktur Mengalami Penurunan Laba Meskipun Volume Penjualannya Meningkat.
Kami mengimbau semua pembaca DomainJava.com untuk tetap mematuhi pedoman penggunaan yang berlaku dan bijak dalam memahami setiap informasi yang disampaikan.
Semua isi dalam artikel SEBUAH Perusahaan Manufaktur Mengalami Penurunan Laba Meskipun Volume Penjualannya Meningkat pada kategori Wawasan hanya bersifat informasi edukatif, referensi, dan pembelajaran bagi pembaca, serta bukan ajakan untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan, kebijakan, atau ketentuan platform mana pun.

