Dalam Kitab Sutasoma, terdapat bait yang berbunyi:

“Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”

Yang artinya, “Berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang berbeda.” Melalui pernyataan ini, Mpu Tantular mengajarkan pentingnya kesatuan meskipun terdapat keberagaman dalam kehidupan masyarakat Majapahit, yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan kebudayaan.

Konteks Sejarah Majapahit

Pada masa Kerajaan Majapahit, Indonesia terdiri dari berbagai kerajaan dan wilayah yang memiliki budaya, bahasa, dan agama yang beragam. Majapahit, sebagai kerajaan besar yang menguasai sebagian besar Nusantara, menyadari pentingnya menjaga persatuan dan keharmonisan antara kelompok yang berbeda.

Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang toleran terhadap perbedaan agama. Hal ini terlihat dari pengakuan terhadap agama Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal yang berkembang pada saat itu. “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi prinsip dasar yang menggambarkan semangat untuk hidup bersama meski ada perbedaan.

Penerapan Nilai “Bhinneka Tunggal Ika” dalam Sejarah Indonesia

Pada masa Kemerdekaan Indonesia, semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” kembali diangkat dan dijadikan sebagai salah satu landasan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya, bahasa, dan agama, semboyan ini menjadi simbol kuat dari keberagaman yang harus dihargai dan disatukan dalam bingkai negara kesatuan.

Disclaimer: Artikel Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” Pertama Kali Dikenal pada Masa Kerajaan Majapahit merupakan hasil rewrite berbasis AI dari berbagai sumber informasi untuk tujuan edukasi dan referensi.

Peringatan: Tim penulis tidak bermaksud mengajak pembaca untuk mengakses link download atau cara yang melanggar kebijakan dalam artikel Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” Pertama Kali Dikenal pada Masa Kerajaan Majapahit.

Kami mengimbau semua pembaca DomainJava.com untuk tetap mematuhi pedoman penggunaan yang berlaku dan bijak dalam memahami setiap informasi yang disampaikan.

Semua isi dalam artikel Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” Pertama Kali Dikenal pada Masa Kerajaan Majapahit pada kategori Wawasan hanya bersifat informasi edukatif, referensi, dan pembelajaran bagi pembaca, serta bukan ajakan untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan, kebijakan, atau ketentuan platform mana pun.