Hikmah Tayamum Hanya Wajah dan Tangan, Ini Penjelasannya

  • Bagikan
Hikmah Tayamum Hanya Wajah dan Tangan
Hikmah Tayamum Hanya Wajah dan Tangan
Artikel berikut ini akan mengulas secara ringkas dan jelas mengenai Hikmah Tayamum Hanya Wajah dan Tangan, Ini Penjelasannya, yang kami rangkum dari berbagai sumber tepercaya guna memberikan informasi yang akurat, relevan, dan mudah dipahami oleh pembaca.

Kenapa yang Diusap Ketika Tayamum Hanya Wajah dan Tangan? Apa saja Hikmah di Balik Ketentuan Syariat Tayamum? Dalam ajaran Islam, bersuci (thaharah) merupakan syarat sahnya ibadah tertentu, seperti shalat.

Ketika seorang Muslim hendak mendirikan shalat, ia diwajibkan berwudhu jika dalam keadaan berhadats kecil, atau mandi wajib jika dalam keadaan berhadats besar. Namun, Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kemudahan. Dalam kondisi tertentu—seperti tidak adanya air atau tidak memungkinkan menggunakan air karena sakit—Allah mensyariatkan tayamum sebagai pengganti wudhu atau mandi.

Tayamum dilakukan dengan mengusap wajah dan kedua tangan menggunakan debu yang suci. Di sinilah muncul pertanyaan yang sering diajukan: mengapa hanya wajah dan tangan yang diusap? Mengapa tidak kepala dan kaki sebagaimana dalam wudhu?

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa syariat Islam tidak hanya dijalankan secara tekstual, tetapi juga dapat direnungkan dari sisi hikmah dan maknanya. Para ulama telah menjelaskan beberapa rahasia dan kebijaksanaan di balik pengkhususan dua anggota tubuh tersebut dalam tayamum.

Dasar Disyariatkannya Tayamum

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan tanah itu.”
(QS. Al-Ma’idah: 6)

Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa tayamum dilakukan dengan mengusap wajah dan tangan. Para ulama sepakat bahwa dua anggota tubuh inilah yang menjadi bagian utama dalam tayamum. Namun, Al-Qur’an tidak secara eksplisit menjelaskan hikmahnya. Di sinilah peran para ulama dalam menggali makna dan kebijaksanaan di balik ketentuan tersebut.

Penjelasan Ulama tentang Hikmah Ketentuan Syariat Tayamum Hanya Wajah dan Tangan

Syekh Abdul Qodir As-Sanandaji dalam kitabnya Mawahibul Badi’ fi Hikmatit Tasyri’ menjelaskan hikmah pengkhususan wajah dan tangan dalam tayamum.

Beliau menyebutkan bahwa tidak disyariatkannya mengusap kepala dengan debu karena dalam kebiasaan (‘urf) masyarakat Arab dahulu, meletakkan debu di atas kepala merupakan simbol kesedihan dan musibah. Ketika seseorang tertimpa bencana atau duka mendalam, mereka menaburkan debu di atas kepala sebagai ekspresi kesedihan.

Karena tayamum adalah ibadah dan bentuk pendekatan diri kepada Allah, maka tidak pantas jika pelaksanaannya menyerupai simbol musibah. Ibadah adalah kemuliaan, bukan kesengsaraan. Oleh sebab itu, syariat tidak menetapkan pengusapan kepala dalam tayamum.

Beliau mengatakan:

“Meletakkan debu di atas kepala adalah sesuatu yang tidak disukai dalam kebiasaan dan dianggap buruk dalam adat, karena dahulu digunakan oleh orang Arab ketika tertimpa musibah dan kesulitan. Maka tidak disyariatkan dalam tayamum, sebab tayamum adalah ibadah dan pendekatan diri, bukan bencana dan musibah.”

Adapun mengenai kaki, beliau menjelaskan bahwa kaki masyarakat Arab pada masa itu hampir selalu terkena debu karena kehidupan mereka yang dekat dengan padang pasir. Kaki mereka terbiasa bersentuhan langsung dengan tanah dan pasir setiap hari.

Karena itu, tidak ada makna tambahan jika kaki juga diusap dengan debu dalam tayamum. Syariat datang dengan penuh hikmah dan tidak menetapkan sesuatu yang tidak memiliki nilai tambahan dalam konteks tersebut.

Wajah sebagai Simbol Kehormatan dan Identitas

Wajah adalah bagian tubuh yang paling tampak dan paling mulia. Di wajah terdapat mata, hidung, dan mulut—organ vital yang menjadi pusat ekspresi dan identitas seseorang. Bahkan dalam banyak budaya, menjaga wajah berarti menjaga kehormatan.

Dalam ibadah, wajah memiliki kedudukan istimewa. Ia adalah bagian tubuh yang pertama kali menghadap kiblat saat shalat. Ia pula yang menempel di tanah saat sujud, sebagai simbol ketundukan total kepada Allah.

Mengusap wajah dalam tayamum memiliki makna simbolis yang dalam: seorang hamba menyucikan bagian tubuh paling mulia dan paling tampak sebagai tanda kesiapan menghadap Rabb-nya.

Tangan sebagai Alat Perbuatan

Tangan adalah alat utama manusia dalam beraktivitas. Dengan tangan seseorang bekerja, memberi, mengambil, menulis, dan melakukan berbagai amal. Banyak dosa dan pahala terkait langsung dengan perbuatan tangan.

Dalam Al-Qur’an, sering disebutkan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan oleh tangannya. Oleh karena itu, penyucian tangan memiliki makna penting dalam simbolisasi pembersihan diri dari hadats dan kesiapan melakukan ibadah.

Dengan mengusap tangan dalam tayamum, seakan-akan seorang hamba menyucikan alat perbuatannya, mempersiapkannya untuk amal yang diridhai Allah.

Kesederhanaan dan Kemudahan dalam Syariat

Tayamum merupakan bentuk keringanan (rukhsah). Ia bukan pengganti wudhu secara penuh dalam bentuk dan detailnya, tetapi pengganti dalam fungsi dan maknanya. Karena itu, tata caranya lebih ringkas.

Jika seluruh anggota wudhu diwajibkan untuk diusap dalam tayamum, maka tujuan kemudahan tidak akan tercapai secara sempurna. Mengusap wajah dan tangan sudah cukup untuk mewakili makna bersuci dalam kondisi darurat.

Ini sejalan dengan prinsip besar dalam Islam:

“Allah tidak menghendaki kesulitan bagimu, tetapi menghendaki kemudahan bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Dimensi Spiritual Tayamum

Tayamum mengajarkan bahwa hakikat kesucian bukan semata-mata terletak pada air atau debu, tetapi pada ketaatan kepada perintah Allah. Ketika air tidak tersedia, debu yang secara lahir tampak kotor justru menjadi alat penyucian karena Allah yang memerintahkannya.

Ini menunjukkan bahwa nilai suatu benda dalam syariat ditentukan oleh perintah Allah, bukan oleh persepsi manusia semata.

Mengusap wajah dan tangan dengan debu mengandung pelajaran kerendahan hati. Manusia diciptakan dari tanah, hidup di atas tanah, dan kelak akan kembali ke tanah. Tayamum mengingatkan akan asal-usul tersebut, sekaligus menegaskan bahwa kemuliaan manusia bukan pada unsur jasadnya, melainkan pada ketaatannya.

Penutup

Pengkhususan wajah dan tangan dalam tayamum bukanlah ketentuan tanpa makna. Para ulama menjelaskan bahwa di baliknya terdapat hikmah yang dalam:

  1. Tidak menyerupai simbol musibah dengan meletakkan debu di kepala.
  2. Tidak mengulang sesuatu yang secara kebiasaan sudah sering terkena debu (kaki).
  3. Memilih dua anggota tubuh yang paling mulia dan representatif.
  4. Mewujudkan kemudahan sebagai tujuan utama rukhsah.
  5. Mengandung makna spiritual tentang kerendahan hati dan ketaatan.

Semua ini menunjukkan bahwa syariat Islam dibangun di atas kebijaksanaan, kemaslahatan, dan rahmat. Tidak ada satu pun ketentuan yang sia-sia atau tanpa hikmah.

Semoga Allah memberikan kita pemahaman yang benar terhadap agama-Nya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tunduk dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Referensi:
Mawahib al Badi’ fi Hikmah at Tasyri’ Hal. 15 – 16

الحكمة فى تخصيصهما دون الرأس والرجلين كما فى الوضوء هو أن وضع التراب على الرؤوس مكروه فى مجرى العادات مستهجن فى العرف مستنكر فى المألوفات لأنه كانت تستعمله العرب عند نزول المصائب وكروء الكوارث والمصاعب فللك لم تشرع فى التيمم لأنه عبادة وقربة لا كارثة ومصيبة

وأما الرجلان فهما منغرسان فيه خصوصا فى أمة العرب التى كانت تمشى فى الصحراء والرمل وتنغرس فيهما بأقدامها لأنها أمة الجد والعمل. لذلك لم يحتج الى استعمال التراب فيهما

Wallahu a’lam bish-shawab.

Seluruh konten dan artikel yang dipublikasikan di DomainJava.com disediakan semata-mata untuk tujuan informasi dan edukasi. Kami berupaya menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat, namun tidak dimaksudkan untuk melanggar hukum, kebijakan, maupun pedoman dari pihak mana pun. Segala bentuk penggunaan informasi yang terdapat dalam artikel Hikmah Tayamum Hanya Wajah dan Tangan, Ini Penjelasannya sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
  • Bagikan
Exit mobile version